Skip to main content

'Klepon Pintar' Kiko Motivasi Anak-Anak untuk Menulis


Sidoarjo, FAMNES - Peluncuran buku bertajuk "Klepon Pintar" yang ditulis Marriane Christabel Komiko - atau yang akrab disapa Kiko, dilakukan secara sederhana di SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo tempatnya menimba ilmu, Rabu (13/12). Sebagai wujud rasa syukur, Kiko dan teman-teman satu kelasnya melakukan potong tumpeng bersama kepala sekolah, dilanjutkan dengan makan bersama para guru.

Patric, ayah Kiko mengaku bangga dan akan terus mendukung pencapaian putrinya tersebut. "Satu hal lagi yang membanggakan kami, ternyata dengan terbitnya buku ini telah memotivasi beberapa teman Kiko untuk menulis. Baik itu teman sekolah, maupun beberapa anak dari teman kami sebagai orangtuanya" ungkap Patric.

Ternyata, menurut sang ayah, talenta menulis Kiko kian terasah saat ia masuk Ekstra kurikuler Jurnalistik dibawah bimbingan gurunya, Mohamad Solikhan. Bulan Mei 2017 lalu, Patric mengatakan bahwa reportase Kiko dalam kegiatan sekolahnya juga sempat dimuat di salah satu koran lokal di Sidoarjo.



'Klepon Pintar' ini sendiri merupakan kumpulan cerpen anak yang berisi 10 judul yang diterbitkan oleh FAM Publishing.  Dikatakan Patric, ide menulis buku yang berhasil dirampungkan selama satu tahun itu, berawal dari pengalaman sehari-hari Kiko dan teman-temannya di sekolah. Kiko yang kini menduduki bangku kelas V A itu menulis hal-hal di sekitarnya, dari cerita teman-temannya, kemudian dikembangkan sendiri menggunakan imajinasinya. Selain itu, Kiko juga menuangkan kisah fiktif buah karyanya, seperti dalam judul "Kue Ajaib".

Mengangkat judul 'Klepon Pintar', gadis kecil yang lahir pada 4 Juli 10 tahun yang lalu itu bukan tak memiliki alasan. Masih dikatakan sang ayah, memilih judul dengan dua kata di atas tak lain ialah berdasar pengalaman Kiko & salah satu gurunya di sekolah yang memang menyukai panganan tradisional, klepon. Kemudian oleh Kiko dihubungkan dengan kegiatan rutin di sekolahnya yang setiap tahun mengadakan kegiatan entrepreneur.



Melalui buku tersebut, Kiko ingin mengungkapkan tentang persahabatan & kepercayaan diri. Tentang kerja sama yang dihasilkan dua sahabat, yang saling bersaing 'sehat' untuk menjadi yang terbaik demi sebuah prestasi .

Kiko mengaku senang atas diterbitkannya 'Klepon Pintar', pasalnya buku tersebut telah memotivasi teman-temannya yang lain untuk berkarya. Berikutnya, Kiko berusaha untuk terus berkarya melahirkan sebuah karya. Agar pembaca senang dengan cerita yg disampaikan. Terlebih, Indonesia saat ini sedang kekurangan buku dan penulis anak. Semoga, setelah Kiko, ke depan akan lahir penulis-penulis cilik lainnya. Supaya generasi muda Indonesia lebih peka terhadap literasi. [TIM MEDIA FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…