Skip to main content

Muhammad Nur Huda (Huda Cg); Buku Catatan adalah Sahabat


       Muhammad Nur Huda (Huda Cg), lahir di Demak, 5 Oktober 1989 adalah putra pertama dari pasangan Bapak Sunaryo dan Ibu Padmi. Lulusan PGSD Unnes ini adalah salah satu diantara 58 pendidik angkatan (tahap) ke-4 yang diberangkatkan oleh P2TK Dikdas Kemdikbud (Sekarang dinaungi oleh Dirjen GTK) pada tahun 2013 untuk untuk mendidik anak-anak Buruh Migran Indonesia (BMI) di pedalaman Sabah-Malaysia. Ia ditugaskan di Pusat Belajar Cummunity Learning Center (CLC) 3 Ladang Lumadan untuk pendidikan setingkat Sekolah Dasar (SD) dan CLC Lumadan Beaufort setingkat Sekolah Menengah Pertama. Ia juga membantu mensukseskan program kejar paket A, B, dan C di wilayah Beaufort, Sabah - Malaysia. Ia sangat antusias dalam kegiatan ini, baginya semua ini semata-mata demi memenuhi hak akan pendidikan bagi saudara sebangsa. 

        Buku pertamanya yang berjudul Cerita Kunang-Kunang Negeri menceritakan tentang kisah perjalanannya menjadi guru anak-anak BMI di pedalaman hutan sawit di Negeri Jiran. Buku antologi cerpen bertema Cinta Pertama dan antologi puisi bertema Sahabat diterbitkan oleh Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia pada akhir tahun 2017.

        Ia memotivasi murid-muridnya untuk menulis, alhasil terbitlah buku yang berjudul Jalan Setapak kumpulan puisi anak-anak BMI di Sabah. Selain fiksi ia juga memiliki minat pada karya tulis ilmiah, semasa kuliah ia pernah lolos beberapa judul penelitian, baik lingkup Institusional Fakultas, maupun Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Dikti. Ia bersama timnya pernah menjadi finalis lomba karya tulis ilmiah PGSD se-Jawa di UKSW Salatiga dan mendapatkan peringkat 4.


        Di Sabah ia pun pernah menjuarai lomba inovasi pembelajaran guru CLC se-Sabah - Serawak kategori Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan oleh Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, sebagai sekolah induk pada tahun 2017. Setiap ada ide ia selalu menuliskan pada buku catatannya, setiap karyanya tidak lepas dari catatan-catatan itu. Baginya buku catatan adalah sahabat.

         Huda tercatat sebagai anggota FAM Indonesia dengan mengantongi nomor IDFAM4898U. 

         Huda saat ini tinggal di Sabah, tepatnya di Kompleks Perumahan Pekerja Sawit Kinabalu Sdn. Bhd. Ladang Lumadan, Kg. Lumadan, Beaufort. Ia beralamat di Indonesia di Jln. Demak - Kudus no. 22, Desa Mranak RT 2 RW 5, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, dapat dihubungi melalui email: nurhudamuhammad@ymail.com, lama Facebook: Huda Cg, telepon atau whatsapp di nomor +601131452571, dan blog pribadi di http://kunangkunangnegeri.webnode.com. [TIM MEDIA FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…