Skip to main content

Oprah Winfrey, Menerobos Masalalu yang Suram


By: Aliya Nurlela

Oprah Winfrey, ratu talkshow ternama dunia memiliki masalalu yang suram. Kedua orangtuanya bercerai, saat Oprah masih kecil hingga mengharuskannya tinggal di rumah sang nenek dalam lingkungan miskin dan kumuh. Enam tahun kemudian, ia tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Namun, sejak umur 9 tahun (selama 4 tahun) ia mendapat pelecehan seksual dari saudara sepupu dan teman-temannya. Di usia 13 tahun, Oprah melahirkan bayi laki-laki dan dua minggu kemudian, bayinya meninggal. Oprah mencoba melarikan diri dari rumah dan dikirim ke tahanan anak, tapi ditolak karena penuh. Setelah itu, ia pergi dan tinggal bersama ayahnya yang kemudian mendidiknya dengan kedisiplinan.

Usia 17, Oprah Winfrey memenangkan kontes kecantikan Miss Black Tennessee  dan mendapat tawaran pekerjaan on-air di WVOL, sebuah stasiun radio yang melayani komunitas Afrika Amerika di Nashville. Oprah terus belajar dan berkarir, hingga mengantarkannya pada kesuksesan dan terkenal.

Tokoh wanita Afro-Amerika ini menjadi penyiar dengan bayaran tertinggi di Amerika. “Oprah Winfrey Show” ditonton 48 juta pemirsa di negaranya dan disiarkan di 126 negara. Sudah menulis lima buku dan menerbitkan dua majalah terkenal dengan  2,3 juta pembaca setia, setiap bulannya. Berbagai penghargaan bergengsi internasional pernah diterimanya. Dia termasuk wanita pertama dalam sejarah yang memiliki dan menghasilkan talkshow sendiri. Dia juga tercatat sebagai miliarder perempuan pertama dari Amerika-Afrika.

[Cerita ini dikutip dari kisah nyata Oprah Winfrey, berbagai sumber/sudah saya ringkas]

Pengalaman suram di masalalu, bukan untuk DIRATAPI. Terus-menerus meratapi peristiwa pahit di masalalu, tidak akan MENGUBAH apa pun, justru membuat fisik dan mental menjadi TIDAK SEHAT. Ujung-ujungnya berdiam diri, tidak berbuat apa-apa, minder, stres, dan tidak bergairah menjalani hidup.

Oprah Winfrey sangat punya alasan kuat UNTUK TIDAK BERUBAH. Orang MENCIBIRNYA karena ia berkulit hitam, tidak cantik, tidak seksi, tidak tinggi dan korban pemerkosaan, tetapi cibiran itu menjadi DORONGAN baginya untuk BANGKIT. Dia MENANTANG pandangan dunia tentang keindahan WAJAH dan bentuk TUBUH. Dia BERHASIL menerobos masalalunya yang suram.

*)Aliya Nurlela, Novelis dan Pegiat FAM Indonesia

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…