Skip to main content

Ciptakan Ide Tulisanmu!



Ledakkan idemu, Agar Kepalamu Nggak Meledak 
(Sebuah judul buku karya Gol A Gong) 
  By: AsyahAl-ayubi 

Kiranya sudah ribuan artikel yang mengangkat tema mengenai cara menemukan ide. Terutama ide untuk menulis yang biasanya menjadi kendala besar bagi seorang penulis pemula. Ide atau gagasan adalah langkah awal dalam penulisan. Seorang penulis akan mulai menulis jika telah menemukan ide yang tepat dan unik untuk ditulis. Nah, bagaimana jika ide itu tak muncul? Benarkan ide itu bisa hilang atau justru tak kunjung datang. 

Pertanyaan tersebut memang biasa dilontarkan oleh penulis pemula. Mereka merasa sedang diambang kebuntuan untuk mengawali sebuah tulisan. Mulai saat ini, buanglah jauh-jauh dari pikiran bahwa ide itu sulit didapatkan, ide tidak bisa hilang selama manusia itu hidup. Yah, teori saja tidak cukup. Maka penting bagi penulis pemula untuk mencoba langkah-langkah dalam mengeksloprasi ide di bawah ini. 

1. Membuka diri pada diri anda, keluarga dan lingkungan. 
Seorang penulis harus memiliki daya kepekaan yang tajam. Jika kalian ingin ide lahir dengan sendirinya maka bersikap terbukalah pada diri Anda, keluarga dan lingkungan. Menceritakan mengenai kehidupan diri sendiri dapat memunculkan ide-ide yang baru. Membuka pada diri sendiri dengan mengingat kehidupan Anda yang layak Anda ceritakan pada semua orang melalui tulisan. 

2. Buatlah catatan hari 
Ada yang mengatakan bahwa terkadang seorang penulis itu memiliki sifat tertutup atau introvert, maka mereka sangat nyaman dengan menulis sebagai media dalam mencurahkan perasaannya. Catatan harian itu mampu memberikan ide untuk dikembangkan menjadi sebuah cerita. kalian perlu memiliki catatan harian untuk mencurahkan energi kalian pada tulisan. Apa pun itu yang erat kaitannya dengan hal yang telah dilalui oleh penulis 

3. Membaca. 
Penulis harus tahu semua hal, namun tidak harus setuju dengan apa yang dibacanya. Karena pada kenyataannya ide akan muncul ketika kalian tidak suka dengan apa yang kalian baca. Mengapa tidak, karena setiap orang memiliki pandangan yang berbeda. Maka itu akan menjadi ide tulisan baru dari satu masalah atau tema yang sama. 

4. Penulis harus menjadi pengamat yang aktif. 
Peka itulah sifat yang harus dimiliki oleh penulis. Jika seorang penulis tidak menjadi pengamat maka dia bisa menggali jutaan ide yang ada di sekitarnya. Penulis bisa mengambil sebuah ide dalam kondisi yang sedang terhangat baik di lingkungan terdekat atau nasional. 

5. Tuliskan apa pun jangan pikirkan aturan 
Bagi penulis pemula, tuliskan apa pun yang ada dalam pikiranmu, jangan menjadikan peraturan penulisan menghalangi ide untuk berkembang. 

Yuk, mulai menulis! Ciptakan idemu. Ledakkan idemu agar kepalamu nggak meledak.[FAM] 


*)AsyahAl-ayubi adalah nama pena dari Nur Asyah lahir dan besar di Purwakarta.Seorang guru SLB ini menyukai dunia literasi semenjak SD,Sang Ayah yang selalu membaca Koran membuat As panggilan akrabnya ini mengikuti jejak sang Ayah. Jika ingin berdiskusi dengannya,silahkan hubungi; 0895 63900 2824 dan berkunjunglah ke-blognya;asyahalayubi.blogspot.com.

Sumber gambar: media.esports.vn

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…