Skip to main content

FAM Indonesia, Jembatan Impian Suprapno


FAMNEWS, Kediri - Sebuah pesan, salah satu karya terbaru Suprapno yang berisi buku kumpulan puisi tersebut, akan diterbitkan oleh FAM Publishing. Sebelumnya, pemilik nama pena Aba Shihab yang lahir di Surabaya pada 15 Desember 1963 ini, telah menerbitkan dua buku kumpulan puisi tunggal dengan judul “Tentang Bulan yang Jatuh” pada 2015, dan buku kumpulan puisi tunggal dengan judul, “Di Batas Waktu” tahun 2017. Selain diterbitkan oleh FAM Publishing, dirinya juga pernah mendokumentasikan pemikirannya dalam buku "Membongkar penyelundupan satwa", oleh Penerbit Penulis Muda Publisher.

Dikatakan Suprapno, dirinya memang telah jatuh hati untuk menulis sejak duduk di bangku SMP, namun kegemarannya tersebut sempat terhenti. Di lain kesempatan, ia kemudian menemukan FAM Indonesia, yang akhirnya berhasil membangkitkan gairahnya untuk menulis puisi dan cerita pendek. Beberapa lomba yang diselenggarakan FAM Indonesia kerap kali ia ikuti, baik itu puisi maupun cerita pendek.



Menurut Suprapno, keberadaan FAM Indonesia dan FAM Publishing adalah jembatan mimpinya. "Setelah bergabung dengan FAM, cita-cita saya untuk menerbitkan buku langsung terealisasikan. Hal ini memberikan semangat kepada saya untuk selalu berkarya" ungkap pria yang juga tengah menggiatkan hobinya dalam seni lukis tersebut.

Suprapno mengaku sangat puas terhadap hasil cetakan FAM Publishing, selain bagus, desain dan kualitasnya pun patut diacungi jempol. "Insya Allah saya akan menerbitkan karya puisi sampai sepuluh buku, tetap di FAM Publishing" tegas Pegawai Negeri Sipil yang tergabung dalam komunitas Forum Literasi Kediri ini.

Sebagai salah satu penulis dan anggota FAM Indonesia yang cukup produktif dalam berkarya, Suprapno berharap ke depan FAM Publishing mempunyai divisi distributor buku terbitan FAM Publishing sendiri. Sehingga, karya-karyanya dan anggota FAM yang lain dapat bersaing dengan distributor lainnya, dalam memasarkan jendela dunia tersebut. [TIM Media FAM]

Keterangan foto: 1. Foto Suprapno

2. Foto saat mengikuti lauching 4 buku bersama FAM Surabaya

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…