Skip to main content

Jejak Angga Kusumadinata Bersama FAM Indonesia


FAMNEWS, Kediri - Angga Kusumadinata, direktur Bumdesa Sukasenang ini sebelumnya pernah menerbitkan buku antologi puisinya, yang berjudul "Nekropolis" tahun 2017 oleh FAM Publishing. Pria kelahiran 5 Mei 1991 ini juga aktif dalam kelompok kepenulisan Kolaborasi. Diakuinya, dirinya mulai menulis terbilang cukup lama, bahkan sejak di bangku SMP. “Mulai produktif dan serius menulis dimulai tahun 2011, 2015 sampai sekarang. Semangat menulis itu suka naik-turun” ujar guru Bahasa Inggris di Sekolah Dasar tersebut.

Ia juga menambahkan, FAM Indonesia-lah salah satu motivasi kuat untuk kembali menekuni dunia literasi. Seperti menularkan virus kebaikan kepadanya. ”Saat mengikuti lomba kepenulisan, dari sana saya mendapat apresiasi yang sangat baik,” tutur Angga yang juga telah merangkum jejak penanya, dalam buku antologi Ensiklopedi Penulis Indonesia jilid 9 itu semangat.

Untuk saat ini, dirinya memang tengah merampungkan beberapa proyek menulis pribadinya. Angga berencana untuk menerbitkan buku fiksi, yang berisi kumpulan puisi dan cerpen, serta non-fiksi kumpulan esai atau buku referensi. Memang belum dalam waktu dekat, hanya saja menurutnya potensi untuk menerbitkan tahun ini kemungkinan besar ada. Bagi Angga, FAM Publising sudah sangat membantunya dalam menerbitkan karya, sebagai salah satu anggota yang cukup produktif, dirinya menilai sudah saatnya bagi FAM Publishing untuk meningkatkan lagi profesionalitasnya.

 “Untuk saat ini FAM Publishing cukup bagus kualitasnya, dan itu perlu ditingkatkan terus. Mengingat di luar sana, kepercayaan penulis sudah mulai banyak yang mengantre pelayanan terbaiknya,” ungkap Angga yang sempat mendokumentasikan beberapa tulisannya di Tabloid Ganesha, Majalah Bhinneka Karya Winaya, linikini.linifiksi.id, majalah Persada Nusantara, dan media online internasional poetrysoup.com.

Selanjutnya, Angga berharap agar karya-karya yang ia tulis dan diterbitkan oleh FAM Publishing, dapat diterima dengan baik oleh masyarakat luas, dari berbagai kalangan dan daerah. Bukan saja Indonesia, bahkan sampai mancanegara. Dalam hal ini, tentu strategi pemasaran menjadi salah satu hal penting yang perlu dipertimbangkan lebih matang lagi. Dirinya juga berharap, agar FAM Publishing dapat bekerja sama dengan lebih banyak instansi terkait, serta merangkul setiap Taman Baca Masyarakat yang ada di Indonesia. [TIM Media FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…