Skip to main content

Jihad Bil Qalam, Upaya Agus Salim Menebarkan Virus Literasi


FAMNEWS, Kediri – Sebagian besar buku di pasaran tentu sudah banyak yang membahas tentang pentingnya menulis. Namun, buku terbitan FAM Publishing pada tahun 2017, yang ditulis oleh Agus Salim--Guru di Lembaga Pendidikan Al Muslim Fullday Scholl--dengan judul Jihad Bi al-Qalam ini jelas berbeda. Dikatakannya, bahwa menulis merupakan bagian dari jihad fi sabilillah. “Dengan menulis, di samping untuk menstrukturkan pemikiran, juga sebagai bentuk sumbangan pemikiran positif untuk membangun budaya sebuah bangsa. Tentu tulisannya harus konstruktif, bukan tulisan destruktif yang isinya bertentangan dengan norma , dan yang berlaku bagi kita” ujar pria yang gemar menulis artikel dan opini di majalah Hidayatullah, Media Jatim, dan koran Harian Surya itu.

Pria kelahiran Jombang, 04 Agustus 1970 yang pernah menjuarai Lomba Menulis Artikel Guru di Majalah Cerdas 2011 lalu ini, sebelumnya telah menerbitkan beberapa karya diantaranya Berguru pada Waktu (BpW), Kumpulan Opini dan Hikmah, Malam-malam Seribu Bulan, Antologi Puisi, Aku Rindu Aku Sujud, Puisi, Jihad Bi al-Qalam, dan Kumpulan Opini dan Artikel. Sebagai ikatan moral dan seperjuangan dalam menyebarkan virus literasi, tak tanggung-tanggung, Agus Salim bahkan berjanji akan tetap menerbitkan buku-buku di FAM Publishing.

Menurutnya, kegiatan menulis sudah ditekuninya secara intens sejak lulus SPGN Jombang tahun 1990 dan berlanjut saat kuliah. “Walaupun berupa coretan-coretan kecil, namun saya yakin coretan-coretan itu akan bermanfaat, seperti pada BpW yang sebagian adalah hasil coretan-coretan kecil. Tentu tetap harus kita kembangkan” tutur pengisi majlis ta’lim di Sidoarjo dan Surabaya tersebut. Tahun 1992, lanjut Agus Salim, sempat pula salah satu coretannya yang berupa karya puisi dan sering dikirimnya ke Radio Republik Indonesia Surabaya, terpilih untuk dibacakan.

Sebagai salah satu anggota, Agus Salim menuturkan jika FAM Indonesia sebagai wadah bagi penulis harus terus inovatif dalam bersaing di dunia kepenulisan. “Sebagai member FAM, saya cukup bangga, sebab bisa memberi wadah bagi penulis pemula untuk menyebarkan pemikiran-pemikirannya melalui tulisan,” katanya sembari mengulang kalimat bijak Sang Proklamator, “Jangan jadikan pikiranmu perpustakaan!”

Dirinya juga berharap, dengan keberadaan FAM Indonesia, pemikiran-pemikiran positif dan konstributif para penulis bisa dirasakan manfaatnya untuk semua masyarakat. Namun kendalanya ada pada pemasaran. Lebih lanjut ia menuturkan bahwa FAM Publishing juga dapat mengembangkan jangkauan pemasaran dan strateginya. “FAM Indonesia sudah sangat profesioanal sebagai komunitas pejuang literasi. Namun tidak ada salahnya untuk tetap berbenah diri menuju penerbitan indie yang lebih professional lagi dalam melayani  dan memasarkan buku anggotanya. [TIM Media FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…