Skip to main content

Juara Puisi "Akhir Tahun" Diumumkan


FAMNEWS, Kediri - Melalui website resminya, Pengurus Pusat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia mengumumkan tiga besar lomba cipta puisi bertema Akhir Tahun, Selasa (23/1/18). Setelah membaca 528 naskah yang diterima Tim FAM, juri memutuskan 105 nominator naskah terbaik untuk dibukukan.

Sementara tiga besar yang berhasil menembus ratusan naskah tersebut adalah Lydia Nahkluz Petrovaskaya, Bengkalis yang mendapatkan juara satu dengan judul puisi, Nyanyian Tahun yang Tak Kulagukan Rindu. Juara dua dipegang oleh Budi Setiawan, Temanggung dengan judul puisi Anjing Penghujung Tahun.  Juara ketiga oleh Saiful Huda, Purbalingga dengan puisinya Sebelum Januari.

SELAMAT KEPADA PARA PEMENANG!

FAM Indonesia juga memberikan penghargaan, sebagai wujud apresiasi atas keterlibatan peserta. Dilansir dari famindonesia.com, hadiah utama yang diberikan kepada Lydia Nakhluz Petrovaskaya ialah uang tunai Rp 150ribu dan voucher pulsa.

Tak jauh berbeda, Budi Setiawan selaku juara kedua juga mendapatkan uang tunai senilai Rp100ribu dan Voucher Pulsa. Sementara juara ketiga yakni Saiful Huda berhak membawa pulang uang pembinaan dan voucher pulsa. Tak hanya sampai di situ saja, FAM Indonesia juga akan membukukan ketiga naskah puisi di atas beserta 105 puisi pilihan lainnya.

Untuk diketahui, judul-judul puisi terpilih untuk dibukukan sudah diumumkan sebelumnya. Dikatakan oleh TIM FAM melalui website resminya, pemenang 1, 2 dan 3 diharapkan untuk segera menghubungi admin FAM Indonesia melalui email aishiterumenulis@gmail.com. Pemenang dapat mengambil hadiah dengan melampirkan scan fotocopy indentitas diri seperti KTP, Kartu Mahasiswa, atau Kartu Pelajar serta menyebutkan judul puisi pemenang serta alamat lengkap domisili dan nomor HP melalui email tersebut.

Seluruh peserta juga akan mendapatkan piagam elektronik dari FAM Indonesia. Menurut Kurnia MP, Ketua Panitia Lomba--piagam akan dikirim dalam format PDF atau JPEG ke alamat email masing-masing peserta. "Proses pengiriman piagam dilakukan bertahap pada 25 Januari hingga 10 Februari 2018. Keputusan dewan juri yang terdiri dari Tim FAM Indonesia bersifat mengikat dan mutlak" jelasnya. [TIM Media FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…