Skip to main content

“Reog Kendang Tulungagung”, Sebuah Dokumentasi Seni Tari Klasik Karya Widwi Astuti


FAMNEWS, Kediri - Widwi Astuti berhasil mendokumentasikan jejak budaya daerah, utamanya seni tari klasik dalam sebuah buku bertajuk "Reog Kendang Tulungagung untuk Generasiku", yang diterbitkan oleh FAM Publishing. Pembimbing ekstrakurikuler Reog di SMKN 2 Tulungagung ini memaparkan selintas tentang Reog Kendang Tulungagung dalam karyanya tersebut. Asal mula tarian Reog, keunikan-keunikannya, dhodhog, instrumen, diskripsi gerak, lagu yang digunakan, kostum Reog kendang Tulungagung hingga cara memukulnya tak lepas dari pengamatan penulis.

Diakui pemilik nama pena Widut ini, karya tersebut merupakan buku tunggal perdananya. Sebelumnya--pada 2016 lalu-- wanita kelahiran 4 Mei 1972 silam ini, pernah mengikutsertakan naskah puisinya “Menyandi Sepi” dalam antologi puisi bersama 22 penyair perempuan, yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya Yogyakarta.

Perempuan kelahiran Kota Proklamator--Blitar yang piawai menari ini juga pernah menulis tentang humor. “Saya pernah berkontribusi dalam rubrik humor, yang saat itu seingat saya EHA EHO, majalah KUNCUP sekitar tahun 1986. Waktu itu saya kelas 1 SMP, karena saat itu saya ingin memiliki kegiatan di luar belajar, akhirnya menulis, deh!” ungkap ibu dua anak itu.

Di mata Widwid, FAM Indonesia sangat membanggakan. “Bisa mengenal para penulis di seluruh wilayah Indonesia itu sesuatu buat saya. Orangnya ramah-ramah, komunikasi antar anggota bisa terjalin layaknya keluarga tanpa memandang penulis senior maupun pemula seperti saya” paparnya.

“FAM, bagi pemula seperti saya sangat membantu” imbuh guru Sekolah Kejuruan itu. Sebagai salah satu keluarga (FAMili), Widwi berharap karya yang diterbitkannya bersama FAM Publising, dapat diterima oleh semua kalangan. Setidaknya dari para seniman muda yang sudah top, mengkreasikan gerak namun minim wawasan tentang gerak dasarnya. Sehingga buku yang ditulis Widwi Astuti ini, bisa menjadi acuan. “Terlebih bagi teman-teman yang membutuhkan acuan untuk menulis makalah, skripsi atau tugas lainlah, semoga buku ini bisa membantu” tutupnya. [TIM Media FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…