Skip to main content

Sembuhkan Kecewa, Dedi Saeful Anwar Terbitkan Buku


FAMNEWS, Kediri--Berawal dari keaktifannya mengikuti berbagai lomba di media sosial yang --salah satunya--digelar oleh FAM Indonesia, produktivitas Dedi Saeful Anwar dalam berkarya kini meningkat. Tentang Dua Per Tiga Air, buku kumpulan puisi yang diterbitkan oleh FAM Publishing menjadi salah satu bukti kecintaannya pada dunia literasi. Sebelumnya, tenaga pengajar yang sekaligus pembina Bengkel Sastra di SD Islam Kreatif Muhammadiyah Cianjur ini telah menelurkan empat buku tunggal yakni, Kumpulan cerita Senyum Nolina di tahun 2013, Cermin FTS/FF dan  PULANG di tahun 2017, dan Kumpulan Artikel BEYOND THE DREAM pada 2017 lalu. 

Dikatakan Dedi, keempat buku yang diterbitkan oleh FAM Publishing tersebut merupakan obat kecewanya. "Berawal dari niat untuk mendokumentasikan tulisan saya, minimal untuk menghilangkan rasa kecewa, akibat lenyapnya beberapa tulisan yang dulu bisa terobati jika berbentuk buku. Lebih jauh lagi semoga bisa bermanfaat untuk pembaca," ucap ayah dari tiga anak tersebut.

Pasalnya, saat masih remaja Kang Dedi--begitu sapaan akrabnya, terbiasa menulis puisi 'curhat'  hingga cerpen di buku hariannya. Namun sayang, tulisan-tulisan itu tidak terdokumentasikan dengan baik. "Ada yang bukunya rusak karena usang, ada yang hilang, ada juga yang dibakar karena galau," ujar Kang Dedi. Setelah mengenal komputer, lanjutnya, kemudian mulai menyimpan tulisan itu dalam file. Namun karena belum memiliki PC sendiri, ia lantas menyimpannya dalam disket atau flashdisk, dan beberapa kali kecewa karena disket atau flashdisk tersebut rusak karena virus. Dengan begitu, otomatis tulisannya pun hilang.


Koordinator FAM wilayah Jawa Barat ini mengaku mulai serius menulis sejak 2012. Pengalamannya menulis pula yang mengantarkannya seperti saat ini. Diakui pria yang kerap menulis di koran Haluan Padang dan Singgalang ini, FAM Indonesia adalah cinta pertamanya dalam dunia literasi. Semangat menulis yang sempat lama padam, tiba-tiba muncul kembali sejak puisinya masuk dalam buku antologi Kejora yang Setia Berpijar. 

"FAM memberikan jalan bagi para penulis muda, terutama saya saat itu dan siapa pun yang mau menulis, serta bergerak dalam dunia literasi untuk mencintai menulis hingga membimbingnya dalam melahirkan karya" tutur Kang Dedi. Dengan adanya FAM publishing, menurut pemilik nama pena Jayasasana atau DS Anwar ini, semakin memudahkan bagi siapa pun untuk melahirkan buku. "Kuncinya asal orang tersebut mau menulis, menulis, dan terus menulis," katanya bersemangat.

Masih dikatakan Kang Dedi, FAM Publishing pilihan terbaik bagi penulis pemula dan siapa saja yang ingin menerbitkan buku. Karena, selain beberapa fasilitas kepenulisan yang disediakan seperti, Kelas Menulis online, sayembara menulis, dan lain-lain, baik dari segi design, layout dan kualitas cetakannya pun memuaskan, sesuai dengan keinginan penulis.

"Apalagi buku tersebut tayang di website FAM Indonesia, sehingga penulis dapat mempromosikan bukunya ke berbagai media sosial. Sudah sangat terbantu, deh" ungkapnya.

Kegiatan/Organisasi yang terlibat aktif diikutinya; Guru di SD ISLAM KREATIF MUHAMMADIYAH CIANJUR, Pembina eksklul BENGKEL SASTRA dan SILAT, Aktif dalam kepramukaan sebagai ANRU SIAGA di KWARRAN CIANJUR, Aktif di IKATAN PELATIH KLUB JANTUNG SEHAT (IPKJS) di Kabupaten Cianjur, Aktif di RUANG SASTRA CIANJUR/RSC dan Koordinator FAM wilayah Jawa Barat.

"FAM banyak memberikan ilmu pada saya. Semoga FAM semakin besar dan unggul, tetap santun dan menjadi wadah yang melahirkan penulis-penulis handal di negeri ini, bahkan mancanegara. Semoga FAM Publishing dapat menjadi penerbit mayor nasional yang diincar para penulis handal," harapnya.

[TIM MEDIA FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…