Skip to main content

Tips Mengikuti Lomba Menulis Online


By: Najla Al-Faiq

Dengan semakin majunya era digital, tentu sudah banyak orang yang beralih pada media online. Khususnya para penyelenggara lomba menulis. Kini kita tidak harus menunggu pengumuman di mading sekolah atau dari mulut ke mulut karena dengan hanya membuka internet, kita akan menjumpai banyak sekali pihak yang menyelenggarakan lomba menulis. Lombanya beragam, ada esai, karya tulis ilmiah, cerpen, puisi, novel dan masih banyak lagi. Dan biasanya untuk menarik perhatian, lomba-lomba kepenulisan tersebut mengiming-imingi hadiah berupa uang jutaan rupiah.

Pesatnya perkembangan era digital ini tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi para penulis. Khususnya penulis yang maunya gratisan tapi ingin mendapat hadiah berupa uang. Jangan khawatir, banyak sekali pihak yang menyelenggarakan lomba kepenulisan online tanpa menarik biaya pendaftaran.

Namun, meski gratis, tentu pihak penyelenggara tidak sembarangan memilih siapa pemenangnya. Seleksi dilakukan dengan cukup ketat oleh beberapa juri yang ditunjuk si penyelenggara. Terkadang meski gratis, kita akan dibuat tidak bersemangat mengikuti lombanya karena selalu kalah. 

Untuk itu, ada baiknya kalian –para penulis menyimak terlebih dahulu tips-tips mengikuti lomba menulis online berikut. 

1. Patuhi syarat dan ketentuan yang ditetapkan
Setiap penyelenggara lomba kepenulisan tentu menetapkan syarat dan ketentuan untuk dipatuhi. Syarat-syarat dan ketentuan inilah yang harus kamu perhatikan dan patuhi terlebih dahulu sebelum mengirimkan naskahmu. Kalau penyelenggara menentukan harus minimal tiga halaman, ya kamu jangan ngotot ingin lima halaman. Perhatikan baik-baik dan terapkan, baru kirimkan naskahmu ke e-mail penyelenggara. Menang-kalah urusan nanti, yang pasti kamu sudah melakukan apa yang sudah diminta oleh si penyelenggara. 

2. Buatlah judul yang menarik dan unik
Membuat judul memang susah susah gampang. Kita secara otomatis akan terdorong menggunakan judul yang mirip dengan judul yang sudah banyak di pasaran. Padahal hal tersebut justru harus kamu hindari kalau ingin mengikuti lomba kepenulisan. “Kan yang dilihat kualitas isinya, bukan judulnya.” Isi naskah kamu memang penting, tapi untuk lomba menulis novel, esai, karya ilmiah yang tidak mungkin hanya berisi tiga sampai lima halaman, juri tidak mungkin membaca keseluruhan isi naskahmu kalau judulnya tidak menarik perhatian. Maka dari itu rangkailah judul yang unik dan bikin penasaran supaya naskah kamu dilirik oleh para juri. 

3. Buatlah halaman pertama yang bikin penasaran
Maksudnya adalah sama dengan kamu membuat judul. Jangan membuat halaman pertama dari naskah kamu bikin juri malas membaca. Sedikit bocoran, para juri lomba tidak mungkin memilih naskah yang sudah sangat-sangat pasaran. Entah itu dari judulnya, termasuk dari paragraf pertama atau halaman pertama naskahnya. Juri tidak punya waktu untuk membaca keseluruhan naskahmu karena banyak naskah peserta lain yang harus dibacanya juga. Jadi, ada baiknya kamu membuat paragraf pertama naskahmu semenarik mungkin dengan arti, membuat juri penasaran untuk membaca keseluruhan naskahmu. Dengan begini, ada kemungkinan lho kamu dipilih menjadi pemenang. 

4. Berikan sentuhan ajaib plot twist
Kalau kamu berhasil membuat juri tertarik akan judul dan paragraf pertama naskahmu, coba deh untuk berikan sentuhan ajaib plot twist di akhir naskah. Ini hanya berlaku untuk lomba fiksi ya, seperti cerpen, novel, fiksi mini, dongeng dan sejenisnya. Kebanyakan orang sudah bisa menebak apa ending dari ceritamu hanya dari setengah cerita bahkan halaman pertamanya saja. Dan juri, tidak akan mau repot-repot membaca semua isi naskahmu sehingga setelah membaca halaman pertama, akan langsung meloncat ke halaman terakhir. Nah di sini nih, beri kejutan juri lomba dengan plot twist. Dengan begini kamu akan membuat si juri penasaran setengah mati dan berakhir harus membaca seluruh naskahmu. 

5. Menyelipkan kutipan dan sumber-sumber besar dan terpercaya
Tips kelima ini ampuh diterapkan pada lomba non-fiksi seperti esai, karya ilmiah dan opini. Namun tips ini juga bisa diterapkan untuk lomba fiksi, yakni dengan menyelipkan kutipan-kutipan dari film atau novel populer. Untuk lomba non-fiksi sendiri, menyelipkan kutipan dari sumber besar dan terpercaya tentu menjadi nilai tambah tersendiri. Dengan begini juri akan dibuat yakin kalau tulisanmu memang orisinal, bukan plagiat atau hasil copy paste karya orang lain. Apalagi jika kamu menyertakan sumber dari karya bahasa asing, kemungkinan untuk menang cukup besar. 

Nah itulah beberapa tips yang bisa dibagikan di sini. Semoga dengan adanya tips-tips ini bisa membuatmu semakin terdorong untuk terus semangat dan kreatif mengikuti lomba-lomba kepenulisan. Selamat berkarya!

*)Najla Al-Faiq, Penulis novel “Sepasang Mata Biru Jihyun.” Sebagai content writer. Beberapa karyanya tergabung dalam buku antologi bersama penulis lain dan terbit di media. Saat ini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi di Jawa Timur. Untuk mengenal tulisan Najla, bisa berkunjung ke blog: ohnajla.wordpress.com.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…