Skip to main content

Wirdanengsih, Penulis yang Peka Terhadap Perempuan dan Keluarga


FAMNEWS, Kediri - Buku Jejak Keluarga, karya Wirdanengsih yang bercerita tentang esai hahikat nilai, fungsi dan peran anggota keluarga dalam membangun keluarga yang harmonis ini, diangkat dari kisah nyata interaksi dalam keluarga.

Buku terbitan FAM Publishing pada 2018 ini merupakan buku terbaru Dosen Universitas Negeri Padang yang lahir pada 08 Mei 1971 silam, setelah 2017 lalu menerbitkan Asa Buah Hati dan Cinta Pink Jilbaber, Catatan Hati Rakyat di tahun 2016, dan Catatan Keluarga Indonesia pada tahun 2013. Semua buku tersebut diterbitkan oleh FAM Publishing.

Sementara buku Mozaik Sosial Budaya Anak Indonesia tahun 2012 diterbitkan pleh UNP press, Menginstal Kecerdasan Sosial tahun 2011 dan Perempuan dalam Kajian Gender tahun 2011 diterbitkan oleh Lentera Istiqlal, Gender dan Pendidikan Multikultural tahun 2016 diterbitkan oleh predana.

Diakui ibu tiga anak ini, dirinya telah akrab dengan kepenulisan sejak duduk di bangku kuliah, yakni dengan menulis artikel dan cerpen di koran tentang fenomena sosial, keluarga, anak dan perempuan. Sejak bergabung bersama FAM Publishing dalam bekerja sama menerbitkan karyanya, wanita yang kini tengah menyelesaikan studi program Doktor di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini merasa FAM adalah kejutan baginya. Menurutnya, FAM juga berkontribusi yang besar dalam mengembangkan potensi anak bangsa.

Dosen di Universitas Negeri Padang itu merasa senang dan bangga, karena FAM Indonesia berbuat dan bekerja dengan integritas dan empati yang tinggi terhadap potensi dan kondisi anggotanya.

Selain kesibukannya dalam mencerdaskan anak bangsa di kampus dan dunia literasi, Wirda juga diamanahi sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Anak Griya Isiqlal, aktif dalam organisasi forum Pendidikan Anak Usia Dini, dan Organisasi Wanita Islam. [TIM Media FAM]

Keterangan foto: Wirdanengsih (tengah) seusai sidang tertutup program doctoral di Universitas Pendidikan Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…