• Info Terkini

    Tuesday, February 6, 2018

    Memahami Filosofi Semut


    By: Agus Nurjaman

    Manusia adalah makhluk paling sempurna di muka bumi, dan hewan derajatnya jauh di bawah manusia, namun manusia terkadang perlu belajar dari hewan . Adakalanya proses menjalankan hidup kita mencontoh dari hal kecil. Jika itu sangat berguna dalam hidup kita kenapa tidak. Rasanya jika kita pikir hal itu bisa menjadi sebuah inspirasi dalam memperbaikai sebuah tatanan kehidupan bermasyarakat. Seiring dengan perkembangan peradaban manusia yang semakin tergerus oleh arus jaman yang kian tidak menentu, banyak terjadi pergeseran dalam bersosialisasi yang baik. Pencapaian hasil berupa sebuah perwujudan hidup bermasyarakat yang masih menggunakan norma-norma yang tidak tersurat. Pada proses pencapaian ini terkadang kita mengabaikan nilai-nilai luhur dalam masyarakat yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kejujuran, kedermawanan, kasih sayang, menghargai, tolong-menolong, melindungi kaum lemah, toleransi, menjaga persatuan dan persaudaraan, dll. Oleh karena itu apabila ada orang Islam yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad namun ia tidak menjunjung tinggi nilai-nilai di atas maka jangan dipercaya pengakuannya.

    Hal tersebut tidak boleh terjadi, maka sebagai seorang yang menganut ajaran Nabi Muhammad SAW, harus selalu berusaha mencari cara agar senantiasa menjaga nilai-nilai luhur tersebut. Untuk mewujudkan nilai-nilai luhur tersebut kita bisa belajar dari filosofi semut yang begitu banyak keistimewaannya dan patut dicontoh oleh manusia. Walaupun kecil, tetapi mempunyai kekuatan untuk membuat orang atau hewan yang lebih besar kesakitan akan gigitannya, apalagi jika di gigit secara rame-rame oleh mereka. Berharap bangsa Indonesia seperti itu, jika ada bangsa lain yang menginjak-injak harkat, kedaulatan dan martabat bangsa, maka kita harus membela bangsa, seperti yang dilakukan pada semut saat diserang.

    Selalu bersama-sama dan saling membantu pada saat melakukan sesuatu, seperti membawa gula ataupun beras yang jatuh. Mereka secara bergotong-royong membawanya. Kita juga sebagai bangsa yang berdaulat dan merdeka, wajib saling bantu-membantu dan tolong-menolong, terutama dengan saudara atau tetangga terdekatnya telebih dahulu. Semut terdiri dari warna merah dan hitam, walau mereka berbeda warna kulit tetapi mereka tidak pernah bertengkar ataupun tawuran yang sering terjadi di negeri ini. Hal ini, harus dicontoh oleh bangsa kita yang beraneka ragam suku, budaya serta agama dan telah merdeka, tenggang rasa dan saling menghargai harus kita bina seperti yang dilakukan oleh semut. Semut setiap bertemu dengan semut lainnya maka mereka akan berhenti berjalan, kemudian seperti bersalaman atau mungkin berbicara. Begitu juga bangsa kita ini, harus saling bersalaman dalam arti kita harus saling berhubungan baik antara sesama umat bangsa tanpa melihat sebuah perbedaan.  

    Banyak karakter positif dari semut dan hebatnya karakter semut yang seakan sudah menjadi filosofi hidup para semut, dapat dijadikan pedoman untuk meningkatkan sebuah hasil proses pembelajaran hidup. Memang filosofi itu sangat sederhana, namun jika kita dapat menerapkannya, akan kita dapatkan banyak pelajaran. Semut selalu mengerahkan semua kemampuannya. Berapa banyak seekor semut selama musim panas dapat mengumpulkan persediaan makanan untuk keperluannya sendiri dan kelompoknya di musim hujan/dingin? Jawabannya, sebanyak mereka mampu. 

    Semut merupakan salah satu jenis serangga yang namanya dijadikan nama salah satu surah di Alquran, yaitu surah An-Naml. Menurut para ilmuwan, mereka telah bertahan selama 6 juta tahun karena mereka diberi karunia oleh Allah untuk mampu beradaptasi dengan baik di mana pun mereka tinggal. Keistimewaan tersebut diataslah yang menjadikan semut memiliki tempat tersendiri dalam Alquran. Begitu banyak filosofi yang bisa dijadikan sebagai pegangan hidup seorang manusia dalam menjalankan roda kehidupan bermasyarakat. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk-makhluk-Nya itu tidak sia-sia baik makhluk yang besar maupun makhluk yang kecil, tentu memiliki manfaat yang dapat digali. 

    Bagi orang-orang yang berpikir, makhluk sekecil apa pun mempunyai makna atas penciptaannya. Dan bagi orang-orang yang beriman, tentu sebagai bukti agar kita selalu bersyukur bahwasanya ada makna atas penciptaan makhluk-makhluk-Nya. Ternyata ada filosofi yang terkandung dari cara hidup semut ini. Meskipun ada sisi buruknya, semut pun memiliki sisi baik yang bisa manusia pelajari dari gaya hidupnya. Semut yang dianggap hewan yang mengganggu keberadaan manusia juga memiliki nilai yang tidak kalah perlu diteladani dalam memenuhi kehidupannya. Karakter keseharian semut yang ditunjukkan perlu kita ambil sari positifnya untuk melangkah dalam dunia nyata dan keseharian kita dalam bermasyarakat dan berbangsa.[FAM]


    Agus Nurjaman. Lahir di Bandung 23 Juni 1969.  Pendidikan yang dilalui SD  1983, SMP 1986 dan STM tahun 1989, Perguruan Tinggi tahun 2001. Alamat ,Gading Tutuka 2 Blok K6. No. 29. RT.04/11.Ciluncat-Cangkuang. Bandung. Diangkat PNS (Guru) 2008. Memiliki hobi menulis berbagai genre. HP.087861284400. e-mail : nagus14@ymail.com. Fb. Agus Nurjaman
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Memahami Filosofi Semut Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top