Skip to main content

Memahami Filosofi Semut


By: Agus Nurjaman

Manusia adalah makhluk paling sempurna di muka bumi, dan hewan derajatnya jauh di bawah manusia, namun manusia terkadang perlu belajar dari hewan . Adakalanya proses menjalankan hidup kita mencontoh dari hal kecil. Jika itu sangat berguna dalam hidup kita kenapa tidak. Rasanya jika kita pikir hal itu bisa menjadi sebuah inspirasi dalam memperbaikai sebuah tatanan kehidupan bermasyarakat. Seiring dengan perkembangan peradaban manusia yang semakin tergerus oleh arus jaman yang kian tidak menentu, banyak terjadi pergeseran dalam bersosialisasi yang baik. Pencapaian hasil berupa sebuah perwujudan hidup bermasyarakat yang masih menggunakan norma-norma yang tidak tersurat. Pada proses pencapaian ini terkadang kita mengabaikan nilai-nilai luhur dalam masyarakat yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kejujuran, kedermawanan, kasih sayang, menghargai, tolong-menolong, melindungi kaum lemah, toleransi, menjaga persatuan dan persaudaraan, dll. Oleh karena itu apabila ada orang Islam yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad namun ia tidak menjunjung tinggi nilai-nilai di atas maka jangan dipercaya pengakuannya.

Hal tersebut tidak boleh terjadi, maka sebagai seorang yang menganut ajaran Nabi Muhammad SAW, harus selalu berusaha mencari cara agar senantiasa menjaga nilai-nilai luhur tersebut. Untuk mewujudkan nilai-nilai luhur tersebut kita bisa belajar dari filosofi semut yang begitu banyak keistimewaannya dan patut dicontoh oleh manusia. Walaupun kecil, tetapi mempunyai kekuatan untuk membuat orang atau hewan yang lebih besar kesakitan akan gigitannya, apalagi jika di gigit secara rame-rame oleh mereka. Berharap bangsa Indonesia seperti itu, jika ada bangsa lain yang menginjak-injak harkat, kedaulatan dan martabat bangsa, maka kita harus membela bangsa, seperti yang dilakukan pada semut saat diserang.

Selalu bersama-sama dan saling membantu pada saat melakukan sesuatu, seperti membawa gula ataupun beras yang jatuh. Mereka secara bergotong-royong membawanya. Kita juga sebagai bangsa yang berdaulat dan merdeka, wajib saling bantu-membantu dan tolong-menolong, terutama dengan saudara atau tetangga terdekatnya telebih dahulu. Semut terdiri dari warna merah dan hitam, walau mereka berbeda warna kulit tetapi mereka tidak pernah bertengkar ataupun tawuran yang sering terjadi di negeri ini. Hal ini, harus dicontoh oleh bangsa kita yang beraneka ragam suku, budaya serta agama dan telah merdeka, tenggang rasa dan saling menghargai harus kita bina seperti yang dilakukan oleh semut. Semut setiap bertemu dengan semut lainnya maka mereka akan berhenti berjalan, kemudian seperti bersalaman atau mungkin berbicara. Begitu juga bangsa kita ini, harus saling bersalaman dalam arti kita harus saling berhubungan baik antara sesama umat bangsa tanpa melihat sebuah perbedaan.  

Banyak karakter positif dari semut dan hebatnya karakter semut yang seakan sudah menjadi filosofi hidup para semut, dapat dijadikan pedoman untuk meningkatkan sebuah hasil proses pembelajaran hidup. Memang filosofi itu sangat sederhana, namun jika kita dapat menerapkannya, akan kita dapatkan banyak pelajaran. Semut selalu mengerahkan semua kemampuannya. Berapa banyak seekor semut selama musim panas dapat mengumpulkan persediaan makanan untuk keperluannya sendiri dan kelompoknya di musim hujan/dingin? Jawabannya, sebanyak mereka mampu. 

Semut merupakan salah satu jenis serangga yang namanya dijadikan nama salah satu surah di Alquran, yaitu surah An-Naml. Menurut para ilmuwan, mereka telah bertahan selama 6 juta tahun karena mereka diberi karunia oleh Allah untuk mampu beradaptasi dengan baik di mana pun mereka tinggal. Keistimewaan tersebut diataslah yang menjadikan semut memiliki tempat tersendiri dalam Alquran. Begitu banyak filosofi yang bisa dijadikan sebagai pegangan hidup seorang manusia dalam menjalankan roda kehidupan bermasyarakat. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk-makhluk-Nya itu tidak sia-sia baik makhluk yang besar maupun makhluk yang kecil, tentu memiliki manfaat yang dapat digali. 

Bagi orang-orang yang berpikir, makhluk sekecil apa pun mempunyai makna atas penciptaannya. Dan bagi orang-orang yang beriman, tentu sebagai bukti agar kita selalu bersyukur bahwasanya ada makna atas penciptaan makhluk-makhluk-Nya. Ternyata ada filosofi yang terkandung dari cara hidup semut ini. Meskipun ada sisi buruknya, semut pun memiliki sisi baik yang bisa manusia pelajari dari gaya hidupnya. Semut yang dianggap hewan yang mengganggu keberadaan manusia juga memiliki nilai yang tidak kalah perlu diteladani dalam memenuhi kehidupannya. Karakter keseharian semut yang ditunjukkan perlu kita ambil sari positifnya untuk melangkah dalam dunia nyata dan keseharian kita dalam bermasyarakat dan berbangsa.[FAM]


Agus Nurjaman. Lahir di Bandung 23 Juni 1969.  Pendidikan yang dilalui SD  1983, SMP 1986 dan STM tahun 1989, Perguruan Tinggi tahun 2001. Alamat ,Gading Tutuka 2 Blok K6. No. 29. RT.04/11.Ciluncat-Cangkuang. Bandung. Diangkat PNS (Guru) 2008. Memiliki hobi menulis berbagai genre. HP.087861284400. e-mail : nagus14@ymail.com. Fb. Agus Nurjaman

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…