• Info Terkini

    Friday, February 9, 2018

    Suparlan Sang Pedagang, Terbitkan Buku sebagai Dakwah


    FAMNEWS, Kediri--Sebagai mubaligh, Suparlan tak ingin setengah-setengah dalam menyampaikan misi Islam. Ketua Majelis Pelayanan Sosial urusan Panti Asuhan Muhammadiyah Pare kabupaten Kediri, Jawa Timur ini baru saja melahirkan sebuah karya dalam buku Qod Aflaha Man Tazakka, yang diterbitkan oleh FAM Publishing. Pria yang sehari-hari beraktivitas sebagai pedagang di pasar induk sayur, buah dan pangan di Pare, mengaku terinspirasi oleh pengamatannya dalam masyarakat. Menurutnya, selain bimbingan lisan, umat Islam masih butuh bimbingan dalam bentuk literasi.

    Dikatakan Suparlan yang pada 9 April mendatang genap berusia 54 tahun ini, Qod Aflaha Man Tazzaka sendiri berisi tentang keberuntungan bagi siapa pun yang mengindahkan salat tepat pada waktunya, serta dasar hukum salat yang bersumber dari Alquran dan hadits shohih. Dikemas sedemikan menarik dengan bumbu-bumbu hikmah, yakni kisah nyata dari seorang pedagang yang galau setelah sekian lama meninggalkan salat.

    Ada yang menarik dari proses kreatif kepenulisan buku ini, Suparlan yang seorang pedagang harus membagi waktunya dan berkonsentrasi saat menulis di sela-sela aktivitasnya di pasar. "Saya menuliskannya sejak dua tahun yang lalu, dengan cara dicicil saat aktivitas di pasar belum ada pembeli, kemudian pembeli datang saya sambung lagi ketika senggang. Begitu inspirasi muncul, maka saya langsung catat untuk kelanjutan tema yang sedang saya cari sumbernya itu," terangnya sembari melanjutkan bahwa rajin salat malam dan salat sunnah lainnya, serta puasa nabi Dawud, ternyata cukup berpengaruh bagi terselesaikannya ini hingga siap dinikmati pembaca.

    Qod Aflaha Man Tazzaka sendiri merupakan karya perdana yang dibukukan oleh kontributor majalah Suara Muhammadiyah Yogyakarta ini, pada akhir Januari 2018 lalu. Tak heran jika kemudian muncul berbagai tanggapan dari rekan-rekannya. Mulai dari celaan hingga pujian, ia sikapi dengan bijak. Semuanya ia kembalikan kepada-Nya, Sang Pemilik kehidupan. "Bahwa kembali lagi, niat saya di sini menyampaikan misi Islam," tutur Suparlan.

    Pada penutup, Suparlan sengaja mengutip sebuah ayat Alquran yang sering digunakan oleh guru spiritualnya, MC Kasimo. Hal ini dimaksudkan sebagai ucapan terima kasihnya atas ilmu dan dukungan moril, yang juga dapat bermakna mengangkat derajat dan menghormatinya. Bicara soal judul, Suparlan memang sering menggunakannya sebagai bahan khutbah Jumat dan ceramah-ceramah agama, saat menerima undangan baik kelahiran, pernikahan, kematian bahkan dalam forum forum diskusi intensif.

    "Saya pikir setiap orang, mulai dari anak kecil hingga manusia lanjut usia masih membutuhkan keberuntungan dengan salat khusuk. Jadi segmentasi buku ini luas, semua umur," papar Suparlan yang sempat menjabat sekretaris Majelis Hukum dan Hak Asasi Manusia di Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kediri.

    Dengan diterbitkannya buku ini, menurut Suparlan keberadaan FAM Indonesia dan FAM Publishing sangat membantu, terutama bagi penulis pemula yang tinggal jauh dari kota besar. Dengan kualitas cetakan yang baik, hanya perlu peningkatan saja, Suparlan sangat terbantu dalam berdakwah 'bil qalam'. Ia juga mengaku senang dengan diskusi-diskusi kepenulisan yang digelar masing-masing cabang FAM Indonesia, terkhusus FAM Pusat sendiri, ke depan ia berharap bisa lebih aktif mengikutinya. [TIM Media FAM]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Suparlan Sang Pedagang, Terbitkan Buku sebagai Dakwah Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top