Skip to main content

Chania Ditatora dan Rekam Jejak Kepenulisannya


FAMNEWS, Kediri--Chania Ditatora lahir di Jantuk, Nusa Tenggara Barat, 9 September 1979. Pria yang berprofesi sebagai guru ini telah banyak menelurkan karya, salah satunya dalam buku tunggal Ratapan Anak Negeri oleh FAM Publishing. "Buku ini lahir tidak terlepas dari bergabungnya saya sebagai anggota FAM. Dengan mengikuti kegiatan atau sayembara menulis yang diadakan kemudian saya berpikir untuk menerbitkan karya tunggal," tuturnya.

Selain itu, Pendidikan Karakter dalam Islam, Demokrasi Kita Diantara Persimpangan Harapan dan Kenyataan, Luka di atas Duka Sepak Bola Nasional, Rindu Sosok Bento dan Perahu Retak (Koran Radar Mandalika), Menakar Potensi Wisata di Pulau Seribu, Masjid dan Mimpi Tak Sempurna Timnas Garuda (Koran Lombok Pos) ia terbitkan di beberapa media lokal dan lainnya.

Sejak akhir tahun 2015, Chania Ditatora resmi bergabung bersama Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebagai bentuk dukungan kepada FAM Publishing, kemudian ia mendokumentasikan beberapa karyanya tersebut. Disamping itu, ia juga hendak membuktikan pada dirinya, bahwa setiap orang punya kesempatan untuk menginspirasi. Selain itu menurutnya, biaya penerbitan untuk ukuran indie juga cukup terjangkau. Hal ini tentu diimbangi dengan kualitas cetakan yang mumpuni.

Sebagai penulis, Chania Ditatora mengaku memiliki tokoh inspirasi seperti Lia Harnita dan Aliya Nurlela. Tak hanya itu saja, tips-tips kepenulisan yang diposting oleh tim FAM Indonesia juga ia jadikan motivasi untuk terus melejitkan karya.

Masih dikatakan Chania Ditatora, peran dan dedikasi FAM Indonesia bersama FAM Publishing di dunia literasi sungguh luar biasa. "FAM memotivasi saya untuk tetap menulis. Semoga ke depan, FAM semakin amanah dan meningkatkan kualitas serta lebih banyak lagi melahirkan karya bersama penulis-penulis muda," ujarnya. [TIM Media FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…