Skip to main content

Jangan Hanya Membaca, tetapi Menulislah!


Oleh: Mister Hadi

Ungkapan sudahkah Anda membaca hari ini? telah sering kita dengar. Entah itu pertanyaan dari seorang guru kepada siswanya, boleh jadi pertanyaan dosen kepada mahasiswanya, atau ungkapan pertanyaan dari seorang bos/pimpinan kepada karyawannya.  Sebenarnya, substansi dari pertanyaan tersebut adalah seberapa luas pengetahuan kita akan sesuatu dan sejauh mana memahami informasi yang setiap hari tidak pernah berhenti menghampiri. Layaknya dalam dunia akademis, kegiatan membaca ‘mutlak’ menjadi kebutuhan. Pelaku akademisi akan dianggap ‘miskin’, ‘kolot’ apabila mereka buta dengan dunia informasi yang mana, dunia informasi itu hanya di dapat dengan cara membaca!.

Sahabat pembaca yang bijak. Terlintas dalam pikiran saya tentang ungkapan, sudahkah Anda membaca hari ini? bahwa hal ini perlu diapresiasi tinggi, karena dengan membaca akan membuka cakrawala dunia. Membaca adalah senjata untuk membunuh kebodohan. Membaca adalah api untuk membakar ke-tidaktahuan. Membaca adalah pisau tajam untuk menghabisi kekolotan. Luar biasa, hanya dengan membaca kita sudah menabung kecerdasan dan kepintaran dalam otak kita. Kecerdasan intelektual akan hilang jika tidak di pertajam dengan membaca. 

Melihat begitu urgent kebutuhan membaca bagi suplemen pengetahuan, maka tak ayal jika banyak anggapan bahwa tradisi membaca tersebut telah menjadi final destination yang harus terus dipupuk agar tumbuh subur dalam pot-pot akal para generasi millenial jaman now. Jika taradisi membaca sudah berhasil membuka simpul kesadaran generasi bangsa dan masyarakat secara general, maka tidak diragukan lagi bahwa menulis merupakan unsur terpenting lain dari sisi mata koin membaca.

Apa yang saya maksudkan adalah, bahwasanya menulis merupakan bagian yang tidak kalah penting dari membaca. Jika membaca mampu membuka cakrawala pengetahuan, maka diperlukan simpul kuat untuk mengikat cakrawala pengetahuan tersebut. Oleh karenanya, menulis merupakan benang perekat dalam merajut kain membaca. Jika kain baca itu sobek atau terlerai, maka benang tulisanlah yang akan merajutnya. Jika kain membaca bernoda atau berdebu maka deterjen menulis yang akan membersihkannya. 

Sahabat pembaca yang budiman. Ilustrasi yang saya gambarkan di atas memberikan pesan penting bahwa jangan hanya menjadi seorang bookreader tetapi jadilah seorang bookwriter. Layaknya pesan sang motivator Indonesia sekaligus penulis Reza M. Syarief “Sukses itu penting, tapi menjadi bahagia jauh lebih sukses” maka sedikit saya akan mengubah ungkapan tersebut kurang lebih seperti ini “Membaca itu penting, tapi menulis yang dibaca jauh lebih penting”


Jika membaca ‘mutlak’ menjadi kebutuhan maka menulis ‘mutlak’ menjadi kewajiban. Kebutuhan membaca seharusnya bergandengan erat dengan kewajiban menulis. Membaca, tanpa menulis apa yang dibaca, akan lekang oleh ingatan dan pikiran. Maka tidak salah ungkapan dosen saya Dr. Syamsudin Arif yang mengatakan begini; write what you read and read what you write “Tulislah apa yang kau baca dan bacalah apa yang kau tulis” Jika dilihat dari sudut pandang para ahli, memori dalam otak manusia semakin lama akan semakin melemah. Maka dibutuhkan rangsangan untuk mengingat kembali apa yang telah dibaca. Dan  sarana terbaik yang digunakan sebagai rangsangan adalah catatan dalam bentuk tulisan.

Sepertinya, ulasan mengenai esensi membaca telah kita pahami  secara mendalam. Untuk kerangka selanjutnya adalah, memfamiliarkan ungkapan sudahkah Anda menulis hari ini? Ungkapan ini bukan hanya sekadar pertanyaan retorika semata, namun esensinya lebih dari itu. Supaya kita sadar bahwa membaca saja tidak cukup kalau tidak diikat dengan menulis. Menulis adalah kewajiban untuk membuktikan kualitas apa yang dibaca. Bukan hanya sekadar menulis, tapi paham apa yang ditulis. 

Sudah saatnya kita menulis. Kendati sebagian orang mengatakan menulis itu sulit, namun yakinlah bahwa menulis itu semudah membaca. Menulis hanya butuh latihan dan keterampilan. Keterampilan menulis dapat diperoleh dari ketekunan membaca. Maka tidaklah heran jika banyak penulis yang memiliki jam terbang membaca yang padat. Banyak membaca, banyak tahu, banyak informasi yang bisa ditulis. Intinya, mulai menulis hal yang paling sederhana, bukan memulai dangan hal yang susah dicerna.

Pada kesimpulannya, menulis adalah refleksi dari membaca. Dengan membaca melahirkan ide dan karya. Karya itulah yang menjadi motor motivasi menulis. Tulisan bukan hanya merekam dan menyimpan, tetapi juga mengajar dan mempengaruhi, mengajak dan membujuk, memberi dan berbagi. Menulis adalah seni berbagi ilmu pengetahuan. Ribuan bahkan jutaan ilmu pengetahuan tidak akan hilang jika ditulis. Dapat dibayangkan, berapa jilid buku dan disiplin ilmu akan abadi untuk dipelajari, diteliti dan diselami apabila para pembaca menulis pesan-pesan hikmah kebaikan bukan kesesatan.

Terakhir, saya ingin mengutip pribahasa Jerman dalam buku Islam dan Diabolisme Intelektual; Werliest, wieβ. Wer schreibt, bleibt. “Siapa membaca akan mengetahui, dan siapa menulis tak akan mati.”



   **Mister Hadi, adalah nama pena dari Sofian Hadi. Asli berdarah Taliwang. Sumbawa Barat, Saat ini sedang menempuh kuliah Pascasarjana (S2) di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Ponorogo. Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam. Pengalaman menulis, cerpennya yang berjudul “Sebait Do’a untuk Sang Guru” masuk dalam 10 besar cerpen terbaik dalam lomba Aksara 2016. Cita-cita, menjadi penulis terkenal dan ingin memperkenalkan kepada dunia bahwa ia ada untuk berkarya.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…