• Info Terkini

    Thursday, March 29, 2018

    Mata Pisau itu Bernama Game


    By: Brillian Eka Wahyudi

    Pada awal Februari 2018, publik tanah air dikejutkan dengan berita yang menyedihkan yaitu seorang siswa membunuh gurunya di SMAN 1 Torjun, Sampang, Madura. Persoalannya berawal dari masalah yang sepele yakni sang murid tidak terima atas teguran sang guru saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung yang berlanjut dengan pemukulan yang dilakukan murid tersebut kepada gurunya, dan berujung tragis dengan kematian sang guru.

    Bersamaan dengan kasus di atas, beredar secara viral, ada satu game yang berjuluk ‘Pukul Guru Anda’ yang dalam judul aslinya ialah Don’t Whack Your Teacher. Game ini tersebar secara luas dan dapat dimainkan melalui desktop, laptop, dan smartphone. Untuk memainkannya, game ini mempunyai sistem naik level dengan konten yang penuh dengan unsur kekerasan dan tidak pantas dimainkan oleh anak di bawah umur.

    Dua kabar yang muncul bersamaan ini memang sekilas muncul seperti kebetulan namun melihat kenyataan ini, sedikit banyak menarik perhatian kami yang menaruh perhatian dengan masalah sosial kemasyarakatan dan cukup sering bersinggungan dengan dunia game.

    Remaja Masa Kini dan Game

    Pada masa kini, memang amat mudah untuk menjangkau dan memainkan game-game yang begitu banyak jumlahnya. Mulai dari yang dapat diunduh melalui smartphone atau yang menggunakan perangkat tambahan. Tak ayal, kemudahan menjangkau berbagai game itu juga dinikmati oleh berbagai kalangan, termasuk anak-anak dan remaja. Mereka bebas mengunduh berbagai game yang mereka mau, hanya dengan bermodalkan smartphone dan jaringan internet.

    Kemunculan game dengan konten kekerasan seperti game ‘Pukul Guru Anda’ ini memang amat meresahkan. Bagaimana tidak, anak-anak dan remaja yang masih bersekolah itu mengunduh game itu lalu memainkannya. Dalam masa pencarian jatidiri seperti ini, kemudahan mereka mengakses game-game dengan konten kekerasan amatlah fatal dan turut berkontribusi mempengaruhi pola pikir mereka. 

    Pisau Bermata Dua

    Tak dapat dipungkiri bahwa keberadaan game memang dirasakan dapat menjadi sarana penyegaran pikiran dan jalan keluar ketika kita sedang mengalami kepenatan pikiran yang luar biasa. Kami pribadi pun sejak kecil dahulu sudah bersinggungan dengan berbagai dunia game dan kami merasakan berbagai efek yang muncul dari game, baik itu positif maupun negatif, sampai saat ini.

    Sebenarnya game itu sendiri memiliki dua sisi yang saling berlawanan, ada sisi positif dan ada sisi negatif. Tidak selamanya game itu memiliki sisi negatif saja, bahkan ada juga sisi positifnya sampai dapat mengharumkan nama bangsa. Sisi positifnya dapat menumbuhkan kreativitas, kejujuran, saling menghargai karya orang lain, dan lain sebagainya. Sisi negatifnya ialah ada beberapa game yang mengandung konten kekerasan, pornografi-pornoaksi, dan efek negatif lainnya.

    Oleh karena itu, kami mengandaikan game itu sendiri bagaikan mata pisau yang mempunyai dua sisi. Jika Anda dapat memanfaatkannya dengan baik, maka pisau itu dapat Anda gunakan untuk memotong daging atau sayuran untuk dimasak menjadi makanan yang nikmat, namun jika Anda tidak dapat memanfaatkannya secara baik, malah pisau itu dapat memotong jari jemari Anda sendiri.

    Pantauan dan Kendali

    Memang benar, masa-masa bermain yang kini mereka nikmati menjadi justifikasi untuk menikmati berbagai game yang tak dapat dipungkiri menjadi solusi di saat mereka menghadapi kepenatan saat proses belajar mengajar di sekolah, begitu juga yang kami pernah rasakan sejak bersinggungan dengan dunia game sejak kanak-kanak hingga masa kini.

    Meskipun demikian, perlu adanya pemantauan dan pengendalian atas konten-konten game yang tersebar secara luas dengan melibatkan seluruh elemen mayarakat dan juga pemerintah. Memang dalam kasus pemukulan yang dilakukan seorang murid kepada gurunya yang berujung kematian ini belum terbukti jelas bahwa si pelaku terinspirasi dari game ‘Pukul Guru Anda’ tersebut namun sekadar untuk diketahui, seperti yang dilansir salah satu media online tanah air, dikabarkan seorang pelajar berumur 18 tahun di Rusia  membunuh gurunya sendiri dengan cara yang amat keji dan pihak kepolisian setempat menduga remaja tersebut terinspirasi melakukan pembunuhan tersebut dari game yang ia mainkan. 

    Oleh karena itu, para orangtua seharusnya melakukan pemantauan mengenai game apa saja yang dimainkan anak-anaknya berikut dengan konten-kontennya dan perlu adanya batasan jam untuk bermain game sehingga tidak mengganggu aktivitasnya yang lain. Para guru turut memberikan edukasi mengenai apa saja yang baik dan tidak baik untuk mereka karena hal ini menjadi edukasi yang penting di saat mereka memasuki masa-masa kedewasaan yang semestinya mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Peran serta pemerintah untuk melakukan pengendalian atas juga diperlukan untuk membatasi konten-konten game yang bersifat negatif. Dalam hal ini, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika sudah melakukan langkah yang tepat dengan memblokir game ‘Pukul Guru Anda’.

    Kami sendiri sejak berkecimpung dalam dunia game sejak tahun 2016 juga turut mengampanyekan bermain game yang jujur, sportif, saling menghargai orang lain, menghormati kearifan budaya lokal, dan aspek positif lainnya. Begitu juga yang kami fokuskan sejak kami diamanahi sebagai moderator Ingress Indonesia, salah satu komunitas game augmented reality (AR) terbesar di dunia termasuk ketika kami mendapat kepercayaan menjadi Embedded Reporter untuk salah satu event game terbesar tersebut. Dengan demikian, game tetaplah menjadi sarana melepas penat dan syukur-syukur dapat mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.



    *)Brillian Eka Wahyudi dilahirkan pada tanggal 6 April 1994 di Kendal, suatu kota di pesisir Jawa Tengah. Pendidikannya diselesaikan di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta dengan jurusan Transmisi Radio dan ditamatkan dengan nilai memuaskan.Penulis pernah meniti karier sebagai Group Leader Passenger and Baggage Handling PT Gapura dan saat ini aktif sebagai staf admin PT Jasa Angkasa Semesta di Bandara Soekarno Hatta. Tidak hanya itu, penulis juga saat ini tercatat sebagai moderator komunitas Ingress Indonesia dan salah satu pemerhati masalah sosial kemasyarakatan. Aktif belajar dan menulis buku juga berkontribusi dalam beberapa event kepenulisan nasional. Berbagai seminar pernah diikuti penulis antara lain Seminar Fotografi KompasMUDA, Seminar Telekomunikasi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta, dan Pengajian Masyarakat Intelektual di Masjid Istiqlal. 
    Beberapa karya penulis antara lain Twitopedia Islamika seri Benua Asia (2014), Antologi Cinta di Ujung Pena (2014), Ensiklopedi Penulis Indonesia jilid 2 (2014), Antologi Aku dan Buku (2015), Negeri Pesona Nirwana (2015), Antologi Ode Kampung Halaman (2015), Antologi Cerita dari Waktu ke Waktu (2015), Antologi Membelah Rimba Kota (2015), Antologi Kenangan Masa Kecil yang Membekas di Hati (2015), Antologi Duhai Ayah Duhai Ibu (2015), Antologi Lautku Lautmu (2015), Antologi Segenggam Kenangan di Bangku SMA jilid 1 (2015), Antologi Sepasang Hati di Langit Kelabu (2015).

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Mata Pisau itu Bernama Game Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top