Skip to main content

Menelisik Sosok Zham Sastera, Juara Pertama Lomba Puisi Bertema "Bencana Alam"


FAMNEWS, Kediri--Zham Sastera, pria kelahiran Pandeglang, Banten 08 Januari, telah mulai menulis sejak duduk di bangku kelas dua SMP. Meski saat itu tulisan-tulisannya seperti puisi dan cerpen hanya sebatas coretan-coretan biasa yang dia bagikan kepada teman-teman sekelas. Pada akhirnya, ia mengakui bahwa sempat iseng-iseng ikut meramaikan mading sekolah..

Secara gamblang, alumnus studi Agama--Agama di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini menyatakan bahwa dirinya termotivasi untuk mengikuti lomba yang diselenggarakan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia karena untuk memenuhi target. “Saya memang menargetkan, setiap tahun harus tembus minimal 5 kali jadi juara kepenulisan terkhusus di bidang kesusasteraan,” ujar Zham yang kini mengabdi di almamaternya tersebut, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Bagi penulis yang satu ini, dipercaya menjadi juara dalam lomba cipta puisi bertema Bencana Alam yang diselenggarakan FAM Indonesia merupakan anugerah tersendiri. Sebab, secara langsung ia telah memanfaatkan dengan baik kemampuan yang Tuhan berikan. “Ketika diumumkan jadi juara, hanya ada satu kata yang tiba-tiba saya ucapkan, apalagi kalau bukan kalimat tahmid sebagai bentuk ungkapan syukur dan bahagia saya pada Sang Pencipta,” paparnya.



Dikatakannya, sepanjang awal 2018 ini dirinya telah dua kali meraih juara 1, sisanya hanya sebagai kontributor. Terhitung sudah lebih dari 100 kali karyanya dibukukan, baik penerbit indie maupun mayor. Di tahun-tahun sebelumnya, Zham juga sering menyabet gelar juara 1 dalam berbagai lomba cipta puisi.

Selama menggeluti dunia kenulisan, setiap hari Zham selalu tak mau ketinggalan untuk menyetorkan ide-ide dari dalam kepalanya pada keyboard laptop. Selain itu, ia juga tak bosan mengikuti bermacam perlombaan kepenulisan. Zham kerap melibatkan diri dalam pertemuan kesusasteraan, baik nasional maupun internasional.

Penggiat komunitas sastra seperti, Lentera Sastera, Keluarga Pencinta Sastra Pandeglang, dan Komunitas Sastra Gunung Karang Pandeglang ini telah membukukan beberapa buku kumpulan puisi tunggalnya, di antaranya yaitu: Coretan Wajah Kehidupan (Penerbit Asrifa 2015), 99 Semiotika Kehidupan (Penerbit Asrifa 20m15), Romantisme Tuhan (Penerbit Asrifa 2016) Jejak Kembara Cita (Pena House 2016), Senandung Rasa (Penerbit Harasi 2017), dan Aum Nurani ( Penerbit Harasi 2018), beberapa buku antologi bersama penulis, penyair senusantara sudah terkumpul lebih dari 100 buku antologi. Tak hanya itu, Zham bahkan aktif menyuarakan pemikirannya lewat kumpulan motivasi, opini, esai, sehingga karyanya pernah di muat di beberapa media.

Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Ciputat ini juga berpesan agar FAM Indonesia terus melahirkan penulis-penulis baru yang karya-karyanya kelak harus mendunia, “semoga FAM selalu istiqamah dan semua yang dilakukan semata mengharap ridho-Nya,” pungkasnya. [TIM Media FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…