Skip to main content

Pemenang Kata Mutiara Terbaik Pilihan FAM Indonesia



FAMNEWS, Kediri – Dalam rangka memperingati hari lahir Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang jatuh pada 02 Maret lalu, Pengurus Pusat FAM Indonesia, mengumumkan nama-nama pemenang Lomba Kata Mutiara Inspiratif bertema Hari Lahir, Selasa (20/03). Lebih dari 500 naskah kata mutiara masuk ke meja redaksi FAM Indonesia, namun hanya ada tiga Kata Mutiara Terbaik dan dua puluh Kata Mutiara Terpilih. Untuk itu, FAM Indonesia memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah antusias mengikuti lomba tersebut.

Irnawati, peserta asal kota kembang, Bandung ini berhasil menyandang gelar Terbaik 1 untuk kata mutiara “Kelahiran adalah langkah pertama dari sebuah kisah. Selanjutnya dirimu sendirilah yang menentukan seperti apa alurnya, di bawah pengawasan dan kekuasaan Sang Sutradara yang lebih haq dan sempurna, hingga kau masuk ke tahap selanjutnya, yaitu klimaks, penyelesaian dan akhir cerita”. Irnawati berhak mendapatkan paket 4 buku, voucher pulsa dan piagam penghargaan.

Sementara, Suci Febria Marsya, peserta asal Bogorlah yang menaklukkan posisi Terbaik 2. Kata mutiaranya ialah “Hari lahir bagaikan sebuah arloji, yang manfaatnya ditentukan sang pemilik. Bagi pemilik yang bijak, ia digunakan sebagai pengingat untuk banyak beribadah dengan waktu yang semakin sempit. Namun bagi pemilik lainnya, ia hanyalah pelengkap penampilan yang tidak berarti”. Suci juga berkesempatan memiliki paket 3 buku, voucher pulsa dan piagam penghargaan.

Adapun Terbaik 3 diperoleh Rivelson Saragih, peserta asal Surabaya ini mengirimkan kata mutiara, “Teruslah berkarya karena kamu ada dan terlahir untuk menciptakan ide-ide yang akan terus bergulir hingga akhir zaman”. Tak jauh beda dengan dua terbaik sebelumnya, Rivelson juga mendapatkan paket 2 buku, voucher pulsa dan piagam penghargaan.

Tim juri FAM Indonesia juga menetapkan 20 (dua puluh) Kata Mutiara Pilihan, masing-masing ialah Samuel Edward (Bandung), Dedi Saeful Anwar (Cianjur), Chatarina Elita Amadea (Pinrang), Alifia Shahnaz (Makassar), Ardelia Bertha Prastika (Mojokerto), Zain Al Falah (Semarang), Totok Satriyonunggal Wahyucokro (Surabaya), Tika Coelogyne (Hulu Sungai Tengah), Thurneysen S (Bekasi), Salfiana Ilyas (Bulukumba), Putri Dian Wardyani (Tangerang), Meilisa Indri Tiyasari (Banyumas). M Azwar Azis Abd (Padang), Krashna Prayoga Permana (Bandung), Indah Yuliati (Nganjuk), Feni Destika, Emawati Hanubun (Ambon), Eli Wahyuni (Malang), Maina Gurinci (Singkil), Nuriyah Rahmawati. Ke-dua puluh peserta terpilih juga akan mendapatkan piagam penghargaan yang akan dikirimkan ke email masing-masing peserta. [TIM Media FAM].

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…