• Info Terkini

    Tuesday, March 6, 2018

    Pengumuman 140 Nominator Lomba Cipta Puisi Bertema "Bencana Alam"


    Selamat Naskah Anda Terpilih!

    Salam literasi FAMili, hari ini Rabu, 7 Maret 2018 FAM Indonesia mengumumkan 140 Nominator Lomba Cipta Puisi Bertema “Bencana Alam”. Setelah tim juri menyeleksi 546 naskah, maka terpilihlah 140 naskah nominator yang berkesempatan menjadi juara dan akan dibukukan. Meskipun tim juri menemukan banyak naskah yang layak dibukukan, namun juri harus membatasi hanya 140 naskah terbaik yang dibukukan. Naskah-naskah ini akan diterbitkan dalam satu judul buku. Judul utama buku yang akan dipilih adalah judul puisi juara 1 (satu). Ke-140 naskah tersebut adalah: 

    Update berdasarkan abjad (A sampai Z)

    1. @ditaa.ra, Jember (Turut Berduka, Sinabung)
    2. Aas Uswatun Hasanah, Cirebon (Banjir, Katanya Kau Terkutuk)
    3. Achmad Mubarok, Grobogan (So-Sial Media)
    4. Adit Antowi, ? (Bencana Alam)
    5. Aditia Fajari, Kutai Kartanegara (Nun Larararara: Bencana Untuk Sang Pujangga)
    6. Afrilla Marsela, ? (Penyakit Kambuh)
    7. Agnestia Suci Prabandari, Yogyakarta (Ketika Tuhan Memeluk Bumi-Nya)
    8. Agus Nurjaman, S. Pd, Bandung (Jentik Illahi)
    9. Agustin Handayani, Probolinggo (Ceritaku padamu, Nak)
    10. Ahmad Maulana, Cianjur (Suratan)
    11. Akhya Fitria, Kendal (Aduan Alam)
    12. Amrozi, Sumenep (Lumpur Lapindo)
    13. Ani Nuryani, Bogor (Wahai Tuan di Suatu Negeri)
    14. Aria Titi, Limapuluh Kota (Kobaran yang Tak Ku Rindu)
    15. Ar-Rahman, Medan (Api Dunia)
    16. Arum Faiza, Lumajang (Kematian yang Dinanti)
    17. Azhar Mutalib, Kapuas (Syair-Syair Akhir Zaman, Bencana Alam)
    18. Azizah Masdar, Riau (Tiba di Kota Kenangan)
    19. Bayu Adjie Kurniawan, Lampung (Negeri Manamana)
    20. Bhiiga Sarilangi, Yogyakarta (Anak Kos dan Banjir)
    21. Bilqis Karunia Putri, Bandung (Akhir Nasib Penumpang Sampan)
    22. Brillian Eka Wahyudi, Jakarta (Amarah di Lebak)
    23. Brilian Stella Abadi, Banyumas (Sapuan Maut)
    24. Budi Setiawan, Temanggung (Nama-Nama yang Hilang Menjadi Lahar dan Abu)
    25. Bukamaruddin, Bone (Tangis Murka Sang Berkah)
    26. Cahyani Mugiarti, Pekanbaru (Raungan Gunung Sinabung)
    27. Celia Paramita, Malang (Jeritan di Medan Kami)
    28. Cindy Amelia, Sleman (Doa Para Pengkhianat)
    29. Cintya Sukma Widita, ? (Bumi Mengamuk)
    30. Darmiani YS, Gowa (Aba-Aba Bencana, Suara Hati Dari Alam)
    31. Davit Kuntoro, Banyumas (Dari Sudut Kota Hitam)
    32. Dede Lesie Williem, Palembang (Napasku Terasa Sesak)
    33. Derry Rakasi, NTB (Merindu Pulang)
    34. Dewi Capriani Gumilang, Brebes (Senandung Ibu Pertiwi)
    35. Dewi Rofiqah, Sumenep (Luka Aceh, Perih Kami)
    36. Dewi Suryani Lase, Sibolga (Hujan Datang dengan Amarahnya)
    37. Dicky Rivaldi, Tangerang (Sepotong Hujan di Akhir Tahun)
    38. DS. Yuliana, Balikpapan (Nyayian Alam)
    39. Dwi Kusuma Astuti, ? (Gempa Bumi)
    40. Dwi Oktoviani, Pemalang (Teguran atas Kelalaian)
    41. Dwiki Ardiansyah, Wonogiri (Bencana Alam)
    42. Eka Lutfia, Surabaya (Penyesalan)
    43. Elista Ita Yustika, Majalengka (Ku Mohon, Jangan Sekarang)
    44. Elsa Mulazimah, Denpasar (Sinabung Saat Ini)
    45. Encim Supriyatna, Bogor (Karena Aku)
    46. Erika Selphie Damayanti, Madiun (Kelabu)
    47. Erna Yuliza Simatupang, Deli Serdang (Bencana Mengundang Tanya)
    48. Erni Arti Yuniar, Ciamis (Situ Cekdam)
    49. Ervina Cahyanti, Gresik (Kotaku Lautan Sampah)
    50. Erwin Setia, Bekasi (Sajak Hutan yang Bersedih)
    51. Estu Puji Handayani, Bondowoso (Ramalan Nostradamus)
    52. Ety Sri Wulandari, ? (Persahabatan Alam yang Terluka)
    53. Evi Novitasari, Ponorogo (Tangisan Keagungan)
    54. Evi Sukaesih, Bandung (Celotehan Hujan)
    55. Evie Suryani, Surabaya (Retak Menyengat)
    56. Faidi Rizal, Sumenep (Dari Langit Turun ke Bumi)
    57. Fathor Rosy, Sumenep (Kampung Air yang Tergusur)
    58. Fatimah Isyti Karimah, Garut (Kala Ia Menggoncang)
    59. Febbi Sena Lestari, Blitar (Punggung-Punggung yang Putus Asa)
    60. Fenaldi Afik Saputro, Magetan (Ironi Negeri)
    61. Ferina Tri Kurniawati, Wonogiri (Ngarep)
    62. Ferril Irham Muzaki, Malang (Berita dari Planet Mars)
    63. Ferry Dermawan, Surabaya (Pesan dari Angkasa)
    64. Fifi Ana Istiqomah, Indramayu (Bencana yang Merenggut Semua)
    65. Fithri Nur'aini, Majalengka (Kemarahan Sang Bumi)
    66. Fitri Yani Hasibuan, Kotapinang (Dosa Pembawa Petaka)
    67. Gendhuk Gandhes, ? (Ironi)
    68. Grenda Ayu Cahya Mentari, Gresik (Kemarin – Hari Ini, Aku dan Manusia Kumal)
    69. Hazura Nusaibah, Jakarta (Hancur)
    70. Helga Julivio Rizki, Jombang (Hangat)
    71. Hendra Purbo Prasongko, Blitar (Rambutan Jatuh)
    72. Heru Sabda, Brebes (Rengekan Pemali)
    73. Homsiyah, Sumenep (Lagu Jeritan)
    74. Indah Tri Wahyuningsih, Boyolali (Tanah Surga, Dulu)
    75. Indriyana, Sumenep (Ribuan Air Hujan)
    76. Intan Nur Fitri, Bangka (Pesan dari Tuhan)
    77. Irawati, Pidie (Kenangan Gempa dan Tali Karet Gelang)
    78. J-Milaah, ? (Bersilengah Pada Elegansi Alam)
    79. Jamalul Muttaqin, Sumenep (Ketika Pohon Pohon Telah Tumbang)
    80. Jannatul Ma'wa, Banyuwangi (Awan yang Gusar)
    81. Jayalin Ali, Situbondo (Ricuh di Balik Dahsyatnya Bencana Tsunami)
    82. Jerry Ryan Pambudi, Jombang (Kilas Balik Negeriku)
    83. Johannes Gultom, Sibolga (Pesan Pengantar Keselamatan)
    84. Laily Fitriani, Malang (Sabda Alam II)
    85. Lydia Nahkluz Petrovaskaya, Bengkalis (Krakatau)
    86. M Azwar Azis Abd, Padang (Perjalanan Kehidupan)
    87. M. Kholilur Rohman, Malang (Gelisah Semesta)
    88. Maria Ulfa, Kalimantan Timur (Aceh, 2004)
    89. Maria Wiedyaningsih, ? (Merindu Akar)
    90. Maulida Khikmawati, Purbalingga (Di Atas Bukit Slimpet)
    91. Maysarah Silitonga, Medan (Jejak Kematian)
    92. Miftakhul Ulumiyah, Pekalongan (Murka Segara di Tanah Banda)
    93. Miftakhus Sholikha, Mojokerto (Raibnya Kasih Sayang)
    94. Mila Fitriyana, Sumenep (Aceh)
    95. Monica Kusumawati, Sragen (Bumi Menangis)
    96. Muhammad Ariezal Givtri, Gresik (Banjir di Pipimu)
    97. Muhammad Idsan, Bone (Di Tepi Jalan Tanpa Bunga)
    98. Muhammad Iqbal Khair, ? (Kemurkaan Tuhan)
    99. Muhammad Muchlisin, Surabaya (Retorika Planet Biru)
    100. Muhammad Reza Akbar, Semarang (Alam yang Tak Lagi Ramah dengan Manusia)
    101. Muhammad Rifani, Banjarmasin (Berbenah Diri)
    102. Muhammad Rizik Fajri Tsani, Cirebon (Daulat Alam)
    103. Muthia Ipmasyari, Kalimantan Timur (Kotaku Lara)
    104. Nandar Ramdani, Ciamis (Janganlah Dulu)
    105. Nenden Rahmawati, Banyumas (Gelombang Aceh)
    106. Nina Herlina Fauziah, Garut (Bumi Terisak)
    107. Noor Hidayah, Kalimantan Selatan (Sajak Pilu Tanah Pertiwi)
    108. Novitasari, Bogor (Kita Tengok Lagi)
    109. Nuraisyah, Medan (Air Penghanyut)
    110. Nur Asia, Maros (Prahara dalam Gelap)
    111. Nur Aviva, Gunungkidul (Kacau nan Berkicau)
    112. Nurul Badriah, Bangka (Pasak Bumi)
    113. Nurul Kharimah, Boyolali (Derai)
    114. Olivia Manthovani, Tangerang (Hujan di Kotaku)
    115. Ones Putra Hulu, Pulau Nias (Tangisan Tenda Biru)
    116. Putri Dian Wardyani, Serang (Pasukan Tuhan)
    117. Rahmadhani Triastomo, Jakarta (Terbang Bersama Guncangan)
    118. Rama Tantowi, Medan (Tanah Gersang)
    119. Rifaldi, Sampit (Saat 10 Maret Itu)
    120. Rina Nurhayati, Ciamis (Pesanku)
    121. Risma Ulinnuha Rohmah, Ponorogo (Bencana Titipan Tuhan)
    122. Rizal Fathurrahman, Gresik (Sujud yang Dirindukan)
    123. Rizal Trismawan, Garut (Akhir Kalam)
    124. Rozali Jauhari Alfanani, Lombok (Menyambut Bencana Pagi Hari)
    125. Samuel Edward, Bandung (Dengarlah Alam Merintih (karena Bencana yang Dialaminya)!)
    126. Shola Aulia Wahyudina, Semarang (Supervolcano)
    127. Sholihin Abdurrahman, Lampa (Nestapa Usai Banjir)
    128. Sidiq Pramudito, Sragen (Jeritan Wanita Tua)
    129. Siska Ade Syahfitri, Riau (Andai Tuhan tak Marah)
    130. Siti Nur Komariah, Sorong (Lautan Bergumam)
    131. Sonny Wilson, Surabaya (Jeruyeast)
    132. Sujata Wee, Malaysia (Dia Datang Sepantas Kilat)
    133. Syaiful Bahri, Bengkulu (Sore Itu)
    134. Tesa Apriani, Bandung (Negeri)
    135. Tiara Ispandrini, Boyolali (Getir)
    136. Tika Coelogyne, Hulu Sungai Tengah (Wasiat)
    137. Wahid Kurniawan, Lampung Selatan (Sesembahan Bumi)
    138. WK Nasirin, Padangsidimpuan (Bahala Barzakh)
    139. Zham Sastera, Pandeglang (Negeri yang Terkoyak Bencana)
    140. Zuraini, Bangka Belitung (Meneguk Rasa Duka)

    Seluruh naskah nominator akan dibukukan oleh FAM Publishing, namun penulis tidak mendapatkan bukti  terbit. Bagi yang ingin memesan bukunya bisa konfirmasi via email FAM: aishiterumenulis@gmail.com. 

    Nantikan pengumuman 20 Naskah Terpilih, Jumat 9 Maret 2018 . Pengumuman Pemenang, Sabtu 10 Maret 2018. 

    Terima kasih atas partisipasi dan antusias Anda semua mengikuti event-event FAM Indonesia. Bagi yang belum beruntung, jangan berkecil hati. Tetap semangat menulis dan ikuti event-event FAM Indonesia lainnya. 

    *Seluruh pemenang dan peserta akan mendapatkan piagam penghargaan. Piagam akan dikirim secara bertahap melalui email setelah tanggal 15 Maret 2018. Batas pengiriman piagam 30 Maret 2018. 


    Salam aktif, salam literasi!
    FAM INDONESIA
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Pengumuman 140 Nominator Lomba Cipta Puisi Bertema "Bencana Alam" Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top