Skip to main content

Jejak Literasi Hafney Maulana di FAM Indonesia


FAMNEWS, Kediri--Hafney Maulana, penulis kelahiran Sungai Luar—Riau, 14 September 1965 ini sudah sejak Mei 2012 bergabung bersama Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Pria yang sehari-hari mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil ini telah menerbitkan beberapa buku di antaranya, Usia Yang Tertinggal (Batam Grafiti, 1996), Ijab Kabul Pengantin (FAM, 2012), Hujan Dini Hari (FAM, 2016), Nikah Hari (Probi, 2016), dan Memetik Cahaya (FAM, 2017).


Diakui Hafney, mulanya menerbitkan buku ialah untuk mengumpulkan tulisan-tulisan yang berserakan di media dan di dokumen pribadi. Namun lambat laut dirinya semakin merasa nyaman bekerja sama dengan penerbit seperti FAM Publishing. “FAM Publishing ini lebih amanah dan mengutamakan kualitas. Sehingga impian untuk memiliki buku sendiri yang ber-ISBN terpenuhi,” tutur Hafney.

Ijab Kabul, buku keduanya yang lahir perdana di FAM Publishing menjadi jejak tak terlupakan. Sementara Memetik Cahaya, karya terbaru Hafney merupakan kumpulan puisi religius yang menggemakan pesan batin agama melalui medium sastra. Sejak mmutuskan untuk menulis, dirinya memang sudah menjadikan sang guru sastra, Hasan Yunus (alm.) dan Idrus Tintin (alm.) sebagai inspirator.


Ia juga berharap agar FAM, selalu aktif dan tak bosan menebar manfaat di dunia literasi, terutama memberikan bimbingan kepada penulis-penulis pemula. Sehingga ke depan lahir generasi literasi yang handal. [TIM Media FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…