Skip to main content

Lomba Menulis Kata Mutiara Inspiratif Bertema Pendidikan


Dibuka: 18 April 2018
Deadline: 10 Mei 2018
Pengumuman Pemenang: 25 Mei 2018

Salam literasi!

FAMili, apa kabar Anda hari ini? Semoga sehat dan terus aktif berkarya. Kali ini FAM mengundang keaktifan Anda kembali dalam event berikutnya: “Lomba Menulis Kata Mutiara Inspiratif bertema Pendidikan.”

Seperti lomba yang sama sebelumnya, kata mutiara yang Anda tulis diharapkan dapat membangkitkan semangat banyak orang untuk berkarya, inspiratif, menggugah, dan mengandung pesan-pesan yang dapat dijadikan renungan.

Syarat dan ketentuan lomba sebagai berikut:

1. Peserta terbuka untuk umum, gratis (tidak dipungut biaya apa pun), baik sebagai anggota maupun nonanggota FAM Indonesia.

2. Kata Mutiara bertema “Pendidikan.”

3. Karya harus original (asli), bukan saduran apalagi ‘mencomot’ karya orang lain (plagiat).

4. Panjang Kata Mutiara maksimal 3 (tiga) baris, boleh dilengkapi dengan gambar/ilustrasi pendukung. Gambar yang diambil dari google harus mencantumkan sumbernya ketika diposting.

5. Kata Mutiara diposting langsung di dinding Grup “Forum Aishiteru Menulis” (grup yang dikelola FAM Indonesia) dan di dinding akun masing-masing tanpa perlu di-tag ke teman-teman Anda. Bagi yang belum bergabung di Grup silakan klik: https://www.facebook.com/groups/forumaishiterumenulis/.

6. Jumlah Kata Mutiara yang diikutsertakan maksimal 5 (lima) Kata Mutiara. Postingan tidak boleh sekaligus, melainkan satu persatu di posting di grup “Forum Aishiteru Menulis.”

7. Selain diposting di Grup “Forum Aishiteru Menulis” juga dikirim ke email: lombafamindonesia@gmail.com. Kata Mutiara yang dikirim ke email FAM diharapkan menyertai: Nama Lengkap, Alamat Domisili, Email, dan Nomor Handphone yang dapat dihubungi.

8. Kata Mutiara ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetap memerhatikan EBI.

9. Di bawah Kata Mutiara dicantumkan Kode Lomba diawali tanda pagar (#), dengan contoh sebagai berikut:

“Pendidikan membuka tabir gelap menjadi cahaya”~ Siti  (Jakarta)
#Lomba Menulis Kata Mutiara FAM Berhadiah paket buku + voucher pulsa

10. Lomba dibuka tanggal 18 April 2018 dan ditutup pada tanggal 10 Mei 2018. Pengumuman Pemenang tanggal 25 Mei 2018.

HADIAH-HADIAH

Terbaik 1:
Paket 4 buku + Voucher pulsa + Piagam Penghargaan

Terbaik 2:
Paket 3 buku + Voucher pulsa + Piagam Penghargaan

Terbaik 3:
Paket 2 buku + Voucher pulsa + Piagam Penghargaan

SELURUH PESERTA AKAN MENERIMA PIAGAM PENGHARGAAN DARI FAM INDONESIA

Demikian Pengumuman ini disampaikan, dan ditunggu Kata Mutiara Terbaik Anda.

Salam aktif, salam literasi!

FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…