Skip to main content

Penerbitan Buku Antologi Puisi Bertema "Laut"


Yuk, terbitkan buku puisi bersama!

[Puisi Bertema “Laut”]

Dibuka: 5 April 2018
Deadline: 4 Mei 2018

Karya Anda yang lolos seleksi akan dibukukan. Hanya dipilih 60 karya penulis!

Laut adalah sumber kehidupan. Segala air bermuara ke laut. Begitupun, banyak puisi lahir dari laut. Laut menjadi inspirasi, motivasi, dan “gelanggang pertarungan” para penyair untuk melahirkan karya-karya mereka.

FAM Indonesia melalui divisi penerbit FAM Publishing telah berhasil membukukan dua judul buku puisi bertema Laut. Kedua buku tersebut, sudah terbit dengan judul “Lautmu Lautku” (FAM, 2014) dan “Menghempas Karang” (FAM, 2016). Atas kesuksesan tersebut, FAM kembali mengajak para penulis kreatif Indonesia untuk menuangkan ide-ide bertema laut dalam bentuk puisi. Naskah kemudian akan dibukukan bersama dalam antologi. 

Bagaimana cara mengirim puisi dan diterbitkan di buku ini?

Pertama, penulis umum (baik anggota FAM Indonesia maupun nonanggota), baik berdomisili di Tanah Air maupun di Mancanegara.

Kedua, naskah puisi ditulis di microsof word 2003 atau 2007, ukuran kertas kuarto A4, jenis huruf Time New Roman, ukuran huruf 12.

Ketiga, panjang naskah tiap puisi maksimal 1 (satu) halaman, cukup 1 (satu) spasi.

Keempat, masing-masing peserta harus mengirimkan 3 (tiga) judul puisi bertema “Laut". Namun yang akan dipilih hanya 2 (dua) puisi. 

Kelima, di bawah naskah mencantumkan profil penulis dalam bentuk narasi (maksimal 10 baris) serta foto diri, dan mencantumkan alamat domisili, email dan nomor telepon yang dapat dihubungi. 

Keenam, naskah dikirim ke email: aishiterumenulis@gmail.com. Subjek email: Nama event_nama penulis. 

Ketujuh, Nama-nama penulis yang naskahnya lolos akan diumumkan di grup dan fanspage FAM Indonesia.

Namun ingat ya, berhubung ini buku antologi bersama, FAM Indonesia sebagai pihak penyelenggara hanya membantu seleksi naskah, menerbitkan jadi buku, promo dan memberikan piagam kepada semua penulis yang tercantum dalam buku. Buku akan diterbitkan secara indie/self publishing. Sedangkan biaya penerbitan, diusung bersama oleh penulis yang terpilih dengan cara membeli 1 (satu) eksemplar buku—membeli lebih dari satu buku, dibolehkan. Biaya pembelian 1 (satu) eksemplar buku seharga Rp55.000 (belum termasuk ongkir). Ongkir dihitung berdasarkan jauh-dekat tempat tinggal penulis. 

*Bagi Anda yang setuju dengan ketentuan di atas, silakan diikuti program ini (tidak ada paksaan untuk ikut). Sekali lagi, pembukuan ini bukan lomba (tidak ada juara). 

Salam literasi!
FAM INDONESIA
www.famindonesia.com 

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…