Skip to main content

Alus Musyhar Laily dan Kisah Anak Melayu


FAMNEWS, Kediri_Alus Musyhar Laily (33) merupakan tokoh penggagas Komunitas Literasi Indragiri Hulu, yakni sebuah komunitas literasi di Riau, yang menggerakkan dan mengenalkan dunia literasi kepada siswa agar tergerak melahirkan karya berbentuk buku. Alus Musyhar atau jika di media sosial akrab disapa Elly Musiman, aktif sebagai penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga di kabupaten Indragiri Hulu, dan beberapa organisasi wanita lainnya.

Alus Musyhar mulai menulis sejak tahun 2016, namun saat itu hanya untuk konsumsi pribadi dan tidak diterbitkan di media masa. Sejak dikenalkan langsung dengan dunia literasi oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya, guru di SMPN 1 Siberida, Riau ini mulai berlatih untuk menerbitkan karya. "Saya mulai rajin menulis buku dan artikel yang diterbitkan oleh media lokal maupun nasional, termasuk di blog," ujar peraih juara satu Guru SMP berprestasi tingkat Propinsi Riau 2018 ini.


Hingga saat ini, Alus Musyhar Laily telah menerbitkan beberapa buku baik di FAM Publishing, Media Guru maupun Intermedia. Adalah Senggani, Sobingoe, Lara Senja, Inhu, Hand dan Mamas, novel yang ditulis oleh wanita kelahiran Bulu Rampai ini. Adapun buku lainnya ialah kumpulan puisi berjudul My Hero, kumpulan cerpen Rindu di Sungai Indragiri dan buku Panduan Pokja 2 PKK.

Diakui peraih juara tiga lomba Diseminasi Literasi Nasional 2017 tersebut, dirinya kini tengah menanti kelahiran buku terbarunya yang berjudul “Rindu di Sungai Indragiri”. Buku ini merupakan kumpulan cerpen yang berisi tentang kerinduan seorang anak Melayu dan sarat akan motivasi bagi remaja. "Setidaknya dari buku ini, saya dapat mengenalkan kepada khalayak mengenai daerah tempat saya tinggal. Tempat yang begitu saya cintai, yang banyak menanamkan nilai-nilai budaya yang kuat," tutur Alus Musyhar.


Menurut Alus Musyhar sendiri, Rindu di Sungai Indragiri lahir dari hasil pemikiran dan pemahaman terhadap beberapa buku berlatar Melayu lainnya, seperti karya penulis Boy Candra. Kegemarannya mengilhami karya-karya penulis kelahiran Padang tersebut, nyatanya mampu mengantarkan ide bagi Alus Musyhar untuk menulis kisah tentang sebuah rindu yang berlatar di negeri Melayu. Novel solo ini sedang  proses terbit di  FAM Publishing.


"Saya senang bisa bekerjasama dengan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dan FAM Publishing. FAM sendiri merupakan salah satu penerbit dan komunitas literasi berjangka nasional yang juara dalam mengcover karya-karya penulis, terutama pada kualitas pelayanan yang memuaskan, dan hasil cetakan yang tidak mengecewakan," pungkasnya. [TIM Media FAM]

Keterangan foto:

Foto 1: Menerima penghargaan dari Kemendikbud sebagai peserta terbaik Lomba Diseminasi Literasi Nasional 2017. 

Foto 2: Bersama kepala dinas pendidikan provinsi, saat menerima penghargaan sebagai guru berprestasi tingkat provinsi 

Foto 3 dan 4: Penulis bersama buku “My Hero” terbitan FAM Publishing

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…