Skip to main content

AR Helmi Penulis Buku "Untukmu yang Berdiri di Tengah Hujan": Menulis itu Mudah, Asal Ada Kemauan


AR Helmi—pria kelahiran Malang, 19 Agustus 1973—merupakan penulis buku “Untukmu yang Berdiri di Tengah Hujan” yang diterbitkan oleh FAM Publishing pertengahan 2018 ini. Helmi yang kini tinggal di Newcastle NSW-Australia ini, sejak sekolah dasar memang sudah menyukai dunia kepenulisan. Mulai dari menulis puisi dan mengikuti berbagai lomba membaca puisi yang diadakan di tingkat sekolah maupun kota, kegemarannya berlanjut sampai ke perguruan tinggi. “Saya sempat bergabung di teater tutur saat di kampus STIE Malangkucecwara Malang. Beberapa kali karya saya ditampilkan dalam teatrikalisasi puisi oleh teater Tutur,” ungkap Helmi kepada TIM Media FAM.

Tak berhenti di sana, selepas kuliah kegemarannya itu tetap berlanjut hingga ditekuni jadi pekerjaan, yakni jurnalis lepas di beberapa majalah dan surat kabar. Kegiatan ini tentu semakin banyak memberi peluang untuk Helmi belajar lebih di bidang kepenulisan, terutama dalam menerbitkan karya. “Pengalaman dalam mempublikasikan karya, bagi sebagian orang mungkin merupakan tantangan tersendiri. Namun sejauh pengalaman saya, sesungguhnya dalam mempublikasikan karya yang terpenting adalah kepercayaan diri terhadap apa yang kita tulis. Jadi selama yang kita tulis adalah hal yang baik, benar, bermanfaat dan tidak menyimpang dari norma serta etika, maka karya tersebut diharapkan bisa berguna bagi banyak orang dan layak untuk dipublikasikan,” tuturnya.


Menurut Helmi, di era digital ini bukanlah hal yang sulit untuk mempublikasikan karya. “Saya kira FAM Publishing sangat berkompeten dalam hal ini. Menulis itu mudah, sekarang tinggal bagaimana kitanya, sejauh apa komitmen kita untuk mewujudkan kemauan dan cita-cita demi menghasilkan karya-karya terbaik,” tegas penulis buku Motivasi Tiada Henti: Renungan Membangkitkan Potensi Diri ini.

Baru-baru ini, Helmi telah menyelesaikan sebuah buku yang memadukan cerita pendek, puisi dan kata-kata mutiara, diperindah dengan beberapa foto yang mendukung tema. Berbicara foto, Helmi agaknya memiliki alasan tersendiri. Baginya, sebuah momen bukan hanya bisa diabadikan dalam bentuk  visual saja, namun kita bisa juga mengabadikannya dalam kisah-kisah imajiner. Meski fiktif, menurut Helmi itulah yang justru akan mempertajam kesan dan suasana emosional, dari apa yang kita rasakan terhadap sebuah tempat atau dalam sebuah peristiwa.

 “Buku ini sekadar sumbangsih kecil saja. Mungkin bagi sebagian orang tidak terlalu istimewa. Namun bagi saya pribadi, buku ini adalah sarana dalam mencari ‘teman seperjalanan’ untuk bersama-sama belajar dan berkarya,” ujar pria 45 tahun ini kepada TIM Media FAM.

Sebagai penulis sekaligus salah satu anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, Helmi menilai bahwa komunitas penulis yang telah banyak melahirkan penulis-penulis muda kreatif ini, sangat positif dan cukup aktif menularkan semangat untuk berkarya. “Keberadaan FAM Indonesia sendiri tentu telah banyak menginspirasi munculnya potensi-potensi baru dalam dunia kepenulisan di Tanah Air, tentu ini tak dapat kita pungkiri. FAM Indonesia sebagai salah satu wadah yang menyediakan berbagai pembelajaran serta pelatihan dalam kepenulisan, tentu telah memberikan peran yang besar dalam bidang literasi di Indonesia. Bahkan lebih dari itu, melalui FAM Publishing, FAM Indonesia juga memfasilitasi penulis dengan jasa penerbitan yang pelayanan dan kualitasnya terbilang memuaskan," pungkasnya. [TIM Media FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…