Skip to main content

Jejak Rindu Jakarta-Hongkong, Antarkan Brillian Raih Juara Satu Lomba Menulis Surat


FAMNEWS, Kediri-Brillian Eka Wahyudi (24), juara satu Lomba Menulis Surat bertema “Ungkapan Hati” yang diselenggarakan oleh Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, dengan judul “Jejak Rindu Jakarta-Hongkong.” Brillian sudah mencintai dunia menulis sejak sekolah menengah pertama. Menurut Brillian, lomba ini bukanlah yang pertama bagi dia. “Saya pernah ikut beberapa perlombaan di bidang literasi, namun untuk menjadi juara satu baru di FAM ini,” tuturnya penuh syukur.

Dikatakannya, pencapaian ini tentu luar biasa. Karena selain dapat mengasah kemampuannya, lelaki kelahiran Kendal ini semakin terpacu untuk aktif dan produktif dalam menulis. Sebelumnya, Brillian telah menerbitkan beberapa artikel dan buku tunggal maupun antologi antara lain,Twitopedia Islamika seri Benua Asia (2014), Negeri Pesona Nirwana (2015), Aku Bukan Syaitan Bisu (terbaru – akan terbit), Cinta di Ujung Pena (2014), Ensiklopedi Penulis Indonesia jilid 2 (2014), Aku dan Buku (2015), Duhai Ayah Duhai Ibu (2015), Segenggam Kenangan di Bangku SMA (2015), Lautku Lautmu (2015), Kenangan Masa Kecil yang Membekas di Hati (2015), Cerita dari Waktu ke Waktu (2015), Ode Kampung Halaman (2015), Membelah Rimba Kota (2015), dan Sepasang Hati di Langit Kelabu (2015).

Tak hanya itu, Brillian juga kerap dimintai untuk memberikan testimoni dan kata pengantar beberapa buku teman-teman penulis lainnya. Sementara di luar kegiatan menulis, pria yang kini bekerja sebagai staff admin untuk penerbangan Malaysia di Bandara Soekarno-Hatta ini juga disibukkan sebagai moderator komunitas game augmented reality Inggris-Indonesia, sekaligus contributor wikipedia.

Brillian mengaku senang dapat bergabung dengan komunitas penulis yang sangat produktif seperti FAM Indonesia, untuk itu tak akan menyiakan waktu untuk terus aktif dalam berbagai kegiatan dan lomba yang diselenggarakan FAM Indonesia dan FAM Publishing. “Untuk FAM Indonesia, teruslah membuat sayembara kepenulisan dan terus melakukan improvement dalam menerbitkan buku,” pungkasnya. [TIM Media FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…