Skip to main content

Lomba Menulis Surat Bertema “Mudik” Berhadiah Uang Tunai + Voucher Pulsa


100 Naskah Terpilih Dibukukan!

Dibuka: 5 Mei 2018
Deadline: 1 Juni 2018
GRATIS!

Lomba menulis surat ini adalah tradisi FAM Indonesia yang sudah berlangsung sejak tahun 2012, namun sejak dua tahun terakhir sementara ditiadakan. Nah, kali ini FAM Indonesia menghidupkan lagi lomba menulis surat untuk melatih Anda menulis, terutama bagi yang pemula. Dengan menulis surat,  Anda akan dapat berindah-indah dengan kata dan bahasa, dapat pula menuangkan sebanyak-banyaknya ide/gagasan dan apa pun yang Anda mimpikan yang mungkin saja belum teraih oleh diri Anda. 

Tuangkan pengalaman Anda melalui surat!

SYARAT & KETENTUAN LOMBA

1. Peserta terbuka untuk umum tanpa dibatasi usia, baik di Indonesia maupun luar negeri.

2.Peserta mengirimkan maksimal 2 (dua) surat. Surat bertema “Mudik”.

3. Panjang naskah surat maksimal 2 (dua) halaman, cukup 1 (satu) spasi.
4. Surat ditujukan kepada siapa saja (bebas). Surat ditulis dengan bahasa santun dan tetap memerhatikan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Tidak ditulis dengan bahasa gaul atau alay. 
5. Naskah diketik di microsoft word 2003/2007, font Times New Roman ukuran 12, jarak 1 spasi.

6. Naskah original, belum pernah terbit di media mana pun (termasuk website, blog dan media sosial)

7. Naskah dilampirkan biodata narasi,  alamat email, dan nomor kontak yang dapat dihubungi.

8. Naskah dikirim ke email: : lombafamindonesia@gmail.com. Subjek email: Lomba Menulis Surat Mudik_Nama Penulis. Paling lambat diterima tanggal 1 Juni 2018. Naskah yang masuk akan mendapat balasan dari admin FAM Indonesia (balasan sesuai antrian naskah masuk. Tidak perlu konfirmasi via WA, SMS, phone jika belum mendapat balasan). 

9. Pengumuman Pemenang tanggal 29 Juni 2018. 


HADIAH-HADIAH:

Terbaik 1: 
Uang Tunai Rp150.000 + Voucher Pulsa + Naskah dibukukan + Piagam Penghargaan

Terbaik 2:
Uang Tunai Rp100.000 + Voucher Pulsa + Naskah dibukukan + Piagam Penghargaan

Terbaik 3:
Uang Pembinaan + Paket Buku + Naskah dibukukan + Piagam Penghargaan

100 naskah terpilih dibukukan. Buku akan diterbitkan secara indie/self publishing oleh FAM Publishing, tanpa ada bukti terbit bagi penulis. Tidak ada kewajiban membeli buku ini. Namun bagi penulis yang naskahnya terpilih dan ingin memiliki bukunya, bisa mengontak FAM: 081350051745 (SMS/WA) atau via email: aishiterumenulis@gmail.com. 

Seluruh peserta akan mendapatkan Piagam Penghargaan dari Forum Aktif Menulis (FAM)

PENYELENGGARA:
Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
www.famindonesia.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…