Skip to main content

Menulis itu Kenikmatan Intelektual


By: Agus Nurjaman

Dalam upaya menumbuhkan budi pekerti siswa, pemerintah melalui kemdikbud meluncurkan sebuah gerakan yang disebut Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan ini bertujuan agar siswa memiliki budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembelajaran sepanjang hayat. Dengan begitu diharapkan dapat mencetak generasi yang melek baca, sehingga dapat menguasai berbagai informasi seutuhnya. Pergerakan informasi dalam kehidupan sekarang sangatlah cepat dan membutuhkan daya tanggap yang cepat pula. Budaya membaca tentunya sangat diharapkan bisa menjaring informasi sebanyak-banyaknya demi sebuah perkembangan pada semua sendi kehidupan masyarakat tanpa terkecuali.

Membangun budaya literasi memerlukan kerjasama setiap masyarakat mulai dari keluarga, sekolah dan pemerintah sangat dituntut andil dalam melaksanakan program yang satu ini. Pemahaman literasi memang tidak terbatas. Saat ini, istilah literasi sudah mulai digunakan dalam arti yang lebih luas, seperti literasi informasi, literasi komputer, dan literasi sains yang kesemuanya itu merujuk pada kompetensi atau kemampuan yang lebih dari sekadar kemampuan baca-tulis. Hanya saja, memang pemahaman yang paling umum mengenai literasi yaitu kemampuan membaca dan menulis.

Menulis adalah bagian dari literasi selain membaca. Kegiatan menulis memang masih sangat jarang dilakukan di Indonesia mengingat bahwa menulis itu harus memiliki kemampuan. Anggapan itu tidak benar, karena menulis bukanlah sebuah bakat melainkan kemampuan yang bisa diwujudkan melalui latihan. Lebih sering berlatih menulis maka hasilnya akan lebih baik (More Practise Make it Better). Keahlian menulis itu bisa dilatih tidak harus turunan dan memiliki keahlian. Seiring dengan perputaran zaman kebiasaan membaca memang sudah menjadi sebuah kebutuhan. Mulai dari rajin membaca kemudian senang membaca itu akan menghasilkan ide-ide yang bisa dituangkan dalam bentuk tulisan. Seseorang akan merasa senang jika tulisannya dibaca oleh orang lain, apalagi jika sebuah tulisannya dimuat dalam salah satu media. Maka mereka akan mendapatkan kenikmatan batin yang tidak terhingga. Maka menulis dengan kata lain memiliki kenikmatan secara intelektual. Karya tulis adalah karya yang abadi.

Begitu banyak manfaatnya jika seseorang menulis, karena dengan menulis otomatis orang itu sering membaca. Sedangkan membaca mutlak harus dilaksanakan oleh seorang penulis untuk menambah pengetahuan. Kegiatan yang ada hubungannya dengan literasi memang seolah menjadi tren pada zaman sekarang. Jika kita telaah kegiatan berliterasi itu bukan hanya membaca melainkan menulis. Perlu diketahui bahwa menulis memiliki kenikmatan secara intelektual. Implikasinya setiap orang yang sudah terbiasa akan mampu menghasilkan berbagai tulisan dalam bentuk artikel bahkan buku. Hasilnya tersebut dapat dibaca orang banyak maka sudah dapat dipastikan orang itu akan mendapat kepuasan tersendiri.

Sejujurnya menulis itu memiliki kenikmatan tersendiri apabila tulisan kita terpublikasikan. Bagi penulis kenikmatan bukan pada berapa rupiah dia dibayar, melainkan seberapa banyak orang menikmati hasil tulisan kita. Jadi sangatlah tepat kalau seandainya menulis itu memiliki kenikmatan intelektual. Bagaimana tidak, seorang penulis akan mendapatkan penghargaan tersendiri manakala tulisannya bisa tersebar di media cetak.

Untuk para pembaca mulailah menulis sekarang juga, kita patut bersyukur karena kita masih diberi kesempatan untuk dapat membaca. Hal itu bisa mempermudah pembaca  mendapatkan berbagai ide untuk dijadikan tulisan. Oleh sebab itu sudah saatnya menulis itu menjadi sebuah budaya. Makin banyak tulisan kita yang dibuat oleh bangsa ini, maka makin banyak kenikmatan intelektual yang diraih. Jangan pernah menyerah ketika tulisan kita belum dimuat, terus menulis dan menulis tanpa mengenal rasa bosan. Niscaya suatu saat akan membuahkan hasil yang memuaskan.

Jadikanlah menulis itu sebagai sebuah pembiasaan dalam hidup kita. Sudah tentu kita harus membiasakan membaca terlebih dahulu, tidak bisa dipungkiri orang besar sekarang karena mereka memiliki kebiasaan membaca. Berapapun banyaknya pekerjaan lain, mereka senantiasa menyisihkan waktu untuk melakukan kegiatan baca. Sehingga hasilnya sangat menakjubkan, mereka bisa menjadi orang hebat dan besar. Itulah kedahsyatan dari seorang pembaca. Mereka bisa menikmati keadaan seluruh jagat raya ini dari membaca. Namun satu hal yang lebih dahsyat dari membaca, ternyata menulis lebih memiliki kenikmatan tersendiri. Jika seorang pembaca mampu membuka dunia, seorang penulis akan mampu menjelajah dunia. Itulah kehebatan dari menulis yang memiliki kenikmatan secara batiniah.


*)Agus Nurjaman  lahir di Bandung, 23 Juni 1969. Memulai jenjang pendidikan dari SD Bojong Koneng, SMP Negeri 1 Soreang dan Sekolah Tehnik Menengah Negeri 2 (STM), Buahbatu Bandung pada  tahun 1989 jurusan Listrik Instalasi. Melanjutkan ke jenjang perkuliahan STKIP Bale Bandung jurusan Bahasa Inggris Tahun 2002. Mengajar di SMPN1 Pasirjambu

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…