Skip to main content

Peluncuran Buku Nyanyian Lembah Kaili


Riuh gemuruh tepuk tangan mewarnai setiap penampilan baca puisi oleh siswa-siswa Sekolah Menengah Atas dan penyair-penyair Sulawesi Tengah dalam rangkaian acara peluncuran buku antologi puisi “Nyanyian Lembah Kaili” yang digagas dan disusun oleh Alvin Shul Vatrick.


Acara berlangsung Senin, 7 Mei 2018 di pelataran Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi jalan Setia Budi Kota Palu yang merupakan wilayah binaan Forum Aktif Menulis (FAM) Sulawesi Tengah, dihadiri oleh Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah Dra. Cwharismy Shindy, M.Si yang menyerahkan buku “Nyanyian Lembah Kaili” kepada Koordinator FAM Sulteng Dr. Loddy Surentu menandai peluncuran buku tersebut sekaligus sebagai pembaca puisi pertama setelah memberi sambutan yang berisikan dukungan pihak dinas terkait atas kehadiran FAM Sulteng di wilayah kerjanya.


Dr. Loddy Surentu menyatakan bahwa kesuksesan acara tersebut dicapai berkat kerja keras pengurus FAM Sulteng serta dukungan dari berbagai kalangan. Selaku koordinator FAM Sulteng, Dr. Loddy Surentu berharap agar kegiatan seperti ini kiranya menjadi motivator terhadap generasi muda bangsa khususnya pelajar untuk giat berkreasi dan berkarya.


Peluncuran buku antologi puisi “Nyanyian Lembah Kaili” berlangsung dari pukul 9.00 pagi hingga siang hari. Sekitar 150 orang siswa-siswi SMA dan sederajat didampingi oleh guru-guru bidang studi bahasa Indonesia dengan antusias mengikuti berlangsungnya acara hingga selesai. Tak luput aktor dan penyair Sulawesi Tengah turut serta di antaranya Rahma Aristan Languha, Emhan Saja, Rohmat Yani, Eka Yani Tandawuya, Ade Rotan, Yayan Kololio, dan lain lain.


Meskipun usia FAM Sulteng terbilang baru (dikukuhkan pada bulan Agustus 2017), namun kiprah dan kreativitas pengurus sangat aktif dalam membangun literasi di wilayah kerjanya. “Saya kagum kepada pengurus FAM cabang Sulawesi Tengah yang begitu aktif menggalakkan literasi yang menyentuh berbagai kalangan. Jika tak ada aral, pada bulan Juli 2018 mendatang akan digelar ajang temu sastra dan silaturahmi antara cabang-cabang FAM di Sulawesi yang saya gagas/bentuk. Di mana pada ajang tersebut berbagai kegiatan telah kami agendakan seperti Lomba Cipta dan Baca Puisi Tingkat Pelajar, Workshop Kepenulisan Karya Sastra, Dialog Sastra, Pembacaan Puisi, Bedah Buku, Pameran dan Basar Buku (terbitan FAM Publishing), Pementasan Teater, Musikalisasi Puisi. Rencananya saya akan mengundang sastrawan dan penyair nasional dari luar Sulawesi untuk mengisi beberapa acara serta berbagi pengetahuan dan pengalaman. Besar harapan saya kepada pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia pusat dalam hal ini Aliya Nurlela selaku Sekjen FAM mendukung penuh dan berkontribusi buku-buku terbitan FAM yang akan diikutkan dalam Pameran Buku FAM nantinya.” Komentar Alvin Shul Vatrick pasca suksesnya launching buku “Nyanyian Lembah Kaili” walaupun tak sempat hadir dikarenakan keberadaannya di Kolaka Utara dalam rangka menata/mengembangkan cabang FAM yang baru yakni FAM Kolaka Utara.  

Palu, 8 Agustus 2018
Rahma Aristan Languha
(Pengurus FAM Sulteng)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…