Skip to main content

Peluncuran Buku Shalawat Dalailul Khoirot


Lebih dari 70-an peserta jamaah pengajian Khowaja Shodiqin mengikuti Peluncuran buku “Shalawat Dalailul Khoirot” karya Muhammad Widodo, Minggu (13/5) di Badas, Kediri.


Selain penulis dan jamaah pengajian, acara ini juga dihadiri Tim FAM Publishing, selaku perwakilan penerbit yang menerbitkan buku tersebut. Aliya Nurlela, selaku Manajer sekaligus novelis sengaja diundang untuk meluncurkan buku karya penulis yang sekaligus sebagai mubaligh ini.


Aliya Nurlela, mengaku bangga bisa membantu penerbitkan karya seorang mubaligh, sekaligus memberikan apresiasi atas terangkumnya ilmu-ilmu pengajian dalam bentuk buku. Harapannya, karya tersebut bisa diterima pembaca, dapat memberikan inspirasi dan manfaat, serta bisa jadi pedoman dalam pengamalan sehari-hari.


Acara berlangsung dari pukul 14.00 sd 15.30 WIB. Selain sambutan yang diberikan pihak penerbit, sambutan juga diberikan oleh tokoh masyarakat setempat. Termasuk salah satu jamaah pengajian yang sengaja memberikan kesaksian, atas kesan-kesannya selama menimba ilmu di tempat Pengajian Khowaja Shodiqin.


Sebagai penutup, Muhammad Widodo yang juga berprofesi sebagai pengusaha, menyampaikan rasa syukur yang dalam atas terbitnya buku “Shalawat Dalailul Khoirot” yang bisa diluncurkan langsung oleh pihak penerbit. Selanjutnya, pegawai perusahaan yang bergerak di bidang jasa konsultansi teknik dan manajemen di Surabaya ini, mengatakan, “harapan saya, jamaah pengajian mampu memahami dan mengamalkan shalawat yang ada dalam buku ini. Serta buku ini bisa diterima masyarakat secara luas.”




Di akhir acara, pihak FAM Publishing menyerahkan piagam penghargaan kepada penulis sebagai penulis buku tunggal. Sekaligus menyerahkan piagam penghargaan kepada salah satu penulis buku “Tanah Bandungan”, Nadhirul Wismiyati yang hadir di acara tersebut. [Tim media FAM Indonesia]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…