Skip to main content

Perjalanan Menulis Ni'matul Khoiriyyah, Penulis Buku Mas Ustadz The Series


FAMNEWS, Kediri--Berawal dari tugas menulis buku harian dan melanjutkan penggalan cerita pendek dalam pelajaran Bahasa Indonesia, Ni'matul Khoiriyyah—penulis buku Mas Ustadz The Series—mulai menggemari dunia kepenulisan. Diawali dengan menulis cerpen dan sesekali mencoba menulis puisi, Ni’matul sempat mendapatkan juara tiga  lomba menulis cerita pendek saat duduk di bangku Madrasah Aliyah (SMA).

“Dapat juara tiga dan hadiah menarik dari ustadz di Al Kamal Kunir Wonodadi Blitar, membuat semangat saya untuk berkarya semakin meningkat. Setelah ustadz memilih cerpen saya untuk dipajang di majalah dinding dalam beberapa edisi, saya pun direkrut sebagai anggota jurnalis pelajar di Al Kamal selama satu periode,” ujar pemilik nama pena Ni'mah alias Nduk Ni'.

Perjalanan kepenulisan seorang Ni’mah tak hanya berhenti di sana, setelah mengikuti Muslimah Writing Competition dan berhasil meraih juara 3, untuk kali pertama karyanya dibukukan dalam buku antologi bersama beberapa penulis lainnya. Selain itu, beberapa lomba menulis cerita pendek dia ikuti, terutama yang bertema cinta.

Di tahun 2014, saat Praktek Pengalaman Lapangan dan Kuliah Kerja Nyata di Thailand,  kontributor lebih dari 20 buku antologi ini berhasil menghimpun karya-karyanya yang berserakan menjadi sebuah buku kumpulan cerita pendek, yang berjudul Ketika Tasbihku Bertahmid. “Ketika Tasbihku Bertahmid, merupakan buku tunggal perdana saya. Setelahnya saya masih terus aktif mengikuti berbagai kegiatan lomba kepenulisan, dan menjadi kontributor beberapa antologi cerpen, surat, esai, dan puisi. Tahun berikutnya ada festival menulis selama Ramadan, saya ikuti pula, dan akhirnya dapat voucher penerbitan. Terbitlah “Diary Ramadhan Ni'mah”. Berikutnya, saya kembali menjadi kontributor antologi cerpen,” paparnya.

Sementara diawal 2017, lanjut Ni’mah, dirinya mulai masuk grup kepenulisan Aku Bisa Menulis. Barulah di pertengahan tahun Ni’mah menuangkan imajinasinya tentang sosok suami idaman. Inilah embrio lahirnya novel Mas Ustadz The Series: Sakinah Bersamamu, yang terbit April 2018 di FAM Publishing. “Novel Mas Ustadz bercerita tentang kehidupan rumah tangga, dengan beberapa konflik pelik. Berawal dari keinginan di lubuk hati terdalam untuk mendapatkan seorang suami yang tampan lahir dan batin, yang setia mendampingi setiap langkah menuju ke surga-Nya, saya menuangkan imajinasi tersebut melalui sosok Mas Ustadz ini. Buku Mas Ustadz 2 akan kembali terbit di FAM Publishing, dengan konflik yang lebih besar,” tutur peraih tropi juara dua olimpiade bahasa Arab nasional, 2017 lalu ini kepada TIM Media FAM Indonesia.

Wanita kelahiran Trenggalek, 27 Juli 1993 ini menambahkan harapannya terkait pesan moral novel Mas Ustadz The Series, menurutnya agar semakin banyak generasi muslim yang sadar akan kemuliaan Islam. Bahwa Islam adalah agama yang paling memuliakan kesucian cinta. Islam sangat sempurna mengajarkan bagaimana seharusnya suami memperlakukan istri dan istri bersikap pada suami. Karena kesejahteraan negara berawal dari keluarga, dari pasangan suami istri.

Selain menerbitkan buku, keseharian Ni’mah kini juga disibukkan dengan rencana untuk merintis Pusat Studi Literasi Santri Al Anwar dan sebagai calon editor terpilih di Ode Literasi. Di luar kegiatannya menulis, Ni’mah kini tengah disibukkan mendampingi belajar anak-anak luar biasa di sekolah menengah pertama, madrasah aliyah, dan SMK Terpadu Al Anwar di bawah yayasan Pondok Pesantren Anwarul Haromain, Baruharjo Durenan Trenggalek.

Sebagai anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang juga menerbitkan karyanya bersama FAM Publishing, Ni’mah berharap agar FAM Indonesia konsisten menjaga kualitasnya. “Sesuai dengan namanya, FAM sangat aktif dan produktif, serta sangat baik dalam mengapresiasi para penulis. Semoga selalu jaya dan mampu melahirkan penulis-penulis handal untuk Indonesia,” pungkasnya. [TIM Media FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…