Skip to main content

Rembulan Bermata Intan, Antarkan Dedi Saeful Anwar Raih Juara Satu Lomba Menulis Puisi Bertema Perempuan


FAMNEWS, Kediri--Nama Dedi Saeful Anwar alias DS Anwar tentu sudah tidak asing lagi di kalangan anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Lomba menulis resensi buku terbitan FAM Publishing yang berjudul Novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh”, lomba menulis Kata Mutiara bertema Ramadan 1438H/2017, dan beberapa lomba lainnya berhasil membawa namanya keluar sebagai juara pertama dan nominator. Kini lelaki kelahiran Cimahi, 10 November 1972 ini kembali meraih juara satu lomba menulis puisi bertema “Perempuan”. Lalu, apa yang sebenarnya membuat penulis buku puisi “Negeri Dua Pertiga Air” ini sukses sebagai jawara?

Menurut DS Anwar, hanya butuh latihan rutin setiap hari untuk menulis dengan tema apa saja, agar dapat memaksimalkan gagasan. Namun bila berbicara tentang proses kreatif saat menulis puisi Perempuan yang diberinya judul Rembulan Bermata Intan (RBI), diakui DS Anwar memang terbilang cukup unik. Pertama kali dia melihat pengumuman tentang lomba menulis puisi dengan tema tersebut, seketika niat untuk berpartisipasi muncul. “Alasannya sudah lama tidak ikut lomba-lomba, sempat ada keraguan mengingat kata "perempuan" ini begitu luas maknanya di mata saya. Kemudian saya memantapkan diri untuk berpartisipasi. Saya berusaha mencari dan menangkap ide,” ungkap pria yang juga tergabung dalam Ruang Sastra Cianjur ini.

Masih dikatakan DS Anwar, ide itu muncul dari salah satu unggahan tulisan seorang kawan di laman media sosial, tentang keindahan akhlak perempuan. Pria yang berprofesi sebagai guru ini kemudian membayangkan kehebatan sosok Ibunda—almarhumah—saat merawat, mendidik dan membesarkan ia dan saudara-saudaranya dengan penuh perjuangan. DS Anwar juga berusaha untuk menyelami hati seorang istri yang selalu patuh dan taat pada suami, serta mengurus rumah tangga dengan sepenuh hati. Diakui DS Anwar, setelah mendapatkan ide tersebut, tidak serta-merta puisi itu lahir. Hingga pada hari terakhir batas pengiriman naskah yakni 15 April 2018, barulah ia mulai menuliskannya.

“Bahkan saya menulis bukan di laptop atau komputer, tetapi dalam media sosial pribadi menggunakan ponsel pintar yang biasa saya gunakan, hanya saja unggahan tulisan ini saya atur hanya saya yang dapat melihatnya. Alasannya selain praktis, ya tentu saja berhubungan dengan rutinitas yang memang cukup padat. Sehingga saya bisa menyempatkan diri mencuri waktu yang bisa dikata begitu sempit. Di hari itu saya langsung menulis dua puisi sesuai persyaratan lomba,” kisahnya. Dalam puisi pertamanya, DS Anwar hanya memerlukan empat kali tahapan editing. Sementara puisi kedua, RBI sampai sepuluh kali proses editing yang harus dilakukannya. Setelah yakin selesai pun, ia tidak langsung mengirimnya ke panitia.

“Saya baca berkali-kali. Hingga menjelang malam sampai mendekati batas akhir, barulah saya kirim kedua puisi tersebut,” ujarnya sembari menambahkan bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati proses.

Melalui lomba ini dan beberapa lomba yang diikuti sebelumnya, DS Anwar berusaha untuk terus mengasah ketajaman berpikir atau intuisinya. Dengan rendah hati ia menuturkan bahwa dirinya terbilang sudah lama tidak mengikuti lomba menulis puisi, dan merasa belum maksimal dalam menulis puisi. Adapun rencananya ke depan tetap menulis puisi dan mencoba lagi mengirim karya ke beberapa surat kabar, serta melanjutkan bengkel sastra dengan peserta didik di sekolah, dan yang tak kalah penting ialah menyiapkan buku puisi selanjutnya setelah "Negeri Dua Pertiga Air". 

DS Anwar mengaku semakin bangga dengan forum yang sejak lama mengayomi tulisan-tulisannya ini, FAM Indonesia. “FAM selalu memotivasi dan memberikan ruang seluas-luasnya kepada semua lapisan masyarakat khususnya generasi muda yang mencintai dunia kepenulisan dalam menggalakkan literasi,” pungkasnya. [TIM Media FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…