Skip to main content

Shalawat Dalailul Khairat, Buku Sang Mubaligh


FAMNEWS, Kediri--Muhammad Widodo, pengusaha sekaligus mubaligh kelahiran Kediri 16 Mei 1969 ini, mulai menulis sejak tahun 2000. Awalnya ia hanya menulis materi untuk pengajian di majelis ta'lim dan Shalawat Khowaja Shodiqin yang diasuhnya, namun agar hak kekayaan intelektualnya tidak dikuasai orang lain, Muhammad Widodo akhirnya menerbitkan tulisannya dalam bentuk buku. Melalui FAM Publishing, untuk pertama kali Muhammad Widodo menerbitkan karyanya.


Shalawat Dalailul Khairat yang ditulis oleh Widodo ini merupakan penjelasan cara mengamalkan shalawat yang ada di kitab Dalailul Khairat. Hadirnya buku ini oleh penulis sendiri diharapkan agar jamaah pengajian yang ada di majelisnya mampu memahami dan mengamalkan shalawat yang ada di dalam kitab Dalailul Khairat. Untuk selanjutnya, pegawai perusahaan yang bergerak di bidang jasa konsultansi teknik dan manajemen di Surabaya ini akan kembali menerbitkan dua buku lainnya, yang berkaitan dengan aktivitasnya sebagai mubaligh.


Rencananya buku ini, akan dilaunchingkan Minggu, 13 Mei 2018 di tempat kediaman penulis yang akan dihadiri oleh utusan dari Penerbit FAM Publishing dan sejumlah jamaah pengajian di sekitar tempat tinggal penulis.


Sebagai penulis yang menerbitkan karyanya di FAM Publishing, menurut Muhammad Widodo sejauh ini FAM Publishing cukup baik dalam mewadahi penulis menerbitkan buku dan berkarya. Terlebih untuk pemula maupun profesional. “Saya berharap FAM makin eksis dalam menerbitkan buku fiksi atau nonfiksi mulai dari agama dan umum lainnya,” pungkasnya. [TIM Media FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…