Skip to main content

Wujudkan Literasi sebagai Budaya Kreatif, FAM cabang Galuh Ciamis Gerakkan Literasi Sekolah


FAMNEWS, Kediri – Forum Aktif Menulis (FAM) cabang Galuh Ciamis, kembali bergeliat dengan Gerakan Literasi Sekolah. Disampaikan oleh koordinator FAM cabang Galuh Ciamis, Yus Rusmana Sudia (50), kegiatan ini dicanangkan akan digelar selama dua tahun ke depan hingga 2019 dengan tema gawe rancage FAM cabang Galuh Ciamis bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis, Dinas Pendidikan, Budaya Pemuda dan Olahraga kabupaten Ciamis, Komunitas Perempuan Penulis Indonesia Cabang Ciamis dan Lembaga Pers Mahasiswa Al-Hikmah Buniseuri.


Menurut Yus Rusmana, acara yang diikuti oleh siswa, mulai dari tingkat sekolah dasar, menengah pertama dan tingkat atas, guru, mahasiswa, serta masyarakat ini telah dimulai sejak Mei 2018. “Sekarang tengah berlangsung kelas literasi angkatan satu”, ujar Yus kepada TIM Media FAM. Untuk diketahui, FAM cabang Galuh Ciamis sendiri telah berdiri sejak awal Oktober 2015 lalu, dengan penggagas Yus Rusmana Sudia dan Latifatunisa Desri.


Masih dikatakan oleh pria yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai negeri sipil ini, FAM cabang Galuh Ciamis sendiri memiliki kegiatan rutin selain gerakan tersebut, yakni kajian literasi lokal setiap bulan, jelajahi situs dan ritus untuk naskah foklor, pelatihan membaca dan menulis, menerbitkan buku, pameran literasi, diskusi literasi, lomba literasi, dan sebagainya. Sementara kegiatan terbarunya berupa pelatihan jurnalistik, termasuk di dalamnya latihan menulis dan gemar membaca untuk siswa SD, SLTP, SLTA, mahasiswa se-kabupaten Ciamis.


“Kegiatan-kegiatan ini kami tujukan agar peserta didik dan pendidik, juga masyarakat mampu berliterasi dengan baik, dan tentunya menjadikan litetasi sebagai budaya kreatif,” jelasnya sembari menambahkan terkait keberadaan FAM Indonesia sebagai wadah dan motivator gerakan literasi Indonesia. “FAM Indonesia sangat inspiratif. Bersama FAM, masyarakat mampu mengeja kehidupan dan membaca jendela dunia.” Pungkasnya. [TIM Media FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…