• Info Terkini

    Tuesday, June 5, 2018

    Menjaring Angin: Renungan Pribadi, Hubungan Sosial hingga Keberagaman


    FAMNEWS, Kediri—Loddy Surentu lahir di Manado, 25 Juni 1966 silam. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, pemilik nama pena Rona Kencana ini telah menulis puisi dan cerita drama sejak duduk di bangku SMA tahun 1994, di Manado.

    Dikatakan Loddy yang merupakan ketua Forum Aktif Menulis (FAM) Sulawesi Tengah, sejak mulai menulis puisi dan cerita drama, semua karya tersebut tidak sempat didokumentasikan secara khusus dan banyak yang tercecer tanpa jejak. Lalu pada tahun 1990, masih dikatakan Loddy Surentu, dirinya hijrah ke Palu dan mulai kembali menekuni dunia kepenulisan saat melaksanakan tugas sebagai guru. Buku kumpulan puisinya yang pertama berhasil diterbitkan Loddy ialah Suara Hati pada tahun 1992, kemudian usai melaksanakan beberapa pementasan teater pada 1994, dirinya mengaku sempat berhenti total dalam dunia menulis terhitung dari Agustus hingga September 2016.


    “Saat itu saya bertemu dengan penyair muda bernama Rahma Aristan Languha, yang akan menerbitkan buku kumpulan puisinya. Usut punya usut, ternyata dia mantan siswa saya, di mana semangat bersastra puisi pernah saya sematkan pada dia. Sampai akhirnya melalui wanita ini saya diperkenalkan dengan seorang aktivis literasi yang juga penyair luar biasa, Alvin Shul Vactrik,” tutur Loddy Surentu sembari menambahkan bahwa dari sana, kemudian ia kembali menulis dan menerbitkan buku kumpulan puisi Kidung Jiwa melalui FAM Publishing pada November 2016 lalu.

    Selanjutnya, pada April 2018 Loddy kembali menerbitkan buku kumpulan Puisi yang ketiga berjudul Menjaring Angin. “Buku kumpulan puisi yang saya terbitkan kali ini nampaknya begitu mendapat respon positif, baik oleh kalangan dinas pendidikan dan kebudayaan provinsi Sulawesi Tengah, maupun Dinas Pendidikan kota Palu yang cukup luar biasa. Bahkan wakil Walikota Palu Sigit Purnomo Syamsuddin Saidatau yang akrab disapa Pasha, turut hadir dan membacakan salahsatu karya dalam buku Menjaring Angin tersebut,” papar Ketua Umum organisasi adat Kerukunan Keluarga Kawanua Sulawesi Tengah ini dengan bangga dan haru.

    Berbicara soal proses kreatif penulisan kumpulan puisi Menjaring Angin, nampaknya Loddy punya cerita tersendiri dalam ikhtiarnya menerbitkan karya yang satu ini. Loddy merekam semua aktivitas pribadi, lingkungan social, maupun kegiatan keagamaan, ke semua itu coba diungkapkannya melalui tarian jarinya pada keyboard. Loddy juga menjadi pengamat yang cukup baik, dari sana kemudian ia lebih banyak menyadari betapa fana dan sia-sia usaha kita mencapai sesuatu yang di luar kuasa manusia. “Bagai menjaring angin yang di luar jalur sebenarnya, baik itu kehidupan pribadi, social, pun halnya keagamaan, maka semua usaha itu akan sia-sia jika tidak melibatkan DIA, pemilik dan yang empunya segala sesuatu yang ada di muka bumi ini. Pesan moral yang saya sematkan dalam kumpulan puisi ini, selagi masih ada waktu dan kesempatan, mari kita datang bersujud Pada-Nya, atas segala ke-Mahakuasaan-Nya,” ujarnya saat dihubungi TIM Media FAM.


    Lebih lanjut Loddy berharap dengan diterbitkannya buku Menjaring Angin ini, agar kiranya masyarakat atau pembaca lebih mencintai dunia literasi. Selain itu, beberapa pesan moral yang menisyaratkan bahwa kita bukanlah siapa-siapa, maka sudah sepatunya kita hidup dalam saling mengasihi sesama makhluk manusia yang berakal budi dan selalu melibatkan-Nya dalam segala ikhtiar, karena diluar itu, semua usaha kita bagai menjaring angin. Sia-sia.

    Selaku salah satu anggota FAM Indonesia yang telah menerbitkan karya bersama FAM Publishing, FAM di mata Loddy Surentu cukup bagus perannya. Sebab menurut Kepala salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di kota Palu ini, keberadaan FAM dapat menghimpun para seniman sastra bidang literasi, untuk mempublikasi dan semakin aktif melahirkan karya-karya mereka dalam bentuk buku. [TIM Media FAM]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menjaring Angin: Renungan Pribadi, Hubungan Sosial hingga Keberagaman Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top