Skip to main content

Pengumuman Nominator Lomba Menulis Surat Bertema "Mudik"


Selamat Naskah Anda Terpilih!

Salam literasi FAMili, hari ini Jumat, 29 Juni 2018 FAM Indonesia mengumumkan  Nominator Lomba Menulis Surat Bertema "Mudik". Setelah tim juri menyeleksi 100-an naskah, maka terpilihlah 48 naskah nominator yang berkesempatan menjadi juara dan akan dibukukan. Meskipun tim juri menemukan banyak naskah yang layak dibukukan, namun juri harus membatasi hanya 48 naskah terbaik yang dibukukan. Naskah-naskah ini akan diterbitkan dalam satu judul buku. Judul utama buku yang akan dipilih adalah judul surat juara 1 (satu). Ke-48 naskah tersebut adalah:


Update berdasarkan urutan huruf Abjad A-Z

1.      Abu Bakar Al Lailul Qodry (Madura) – Judul Surat: Memulangkan Rindu Padamu
2.      Afra Ulfatihah Nur Erwanto (Lumajang) – Judul Surat: Teruntuk : Nenekku
3.      Aida Fitriyati (Malang) – Judul Surat: To: Bapak Masinis Pengantar Pelepas Rindu
4.      Akhmad Asy'ari (Sumenep) – Judul Surat: Tunggulah aku di kampung halaman
5.      Al Rizky Pratama (Malang) – Judul Surat: Pulang Kampung
6.      Analysa br Surbakti, S.Pd (Deli Serdang) – Judul Surat: Inginku Mudik Bersamamu
7.      Andan Sari Nurbaty (Cimahi Tengah) – Judul Surat: Diri sendiri
8.      Andi Lola Amelia (Jakarta) – Judul Surat: Rindu Pulang

9.      Anelia Kartia (Kalimantan Timur) – Judul Surat: Kepada Tante Ami
10.  Aning Purnami (Surabaya) – Judul Surat: Jalan Panjang Menuju Cinta
11.  Astri Trisna Dewi (Makassar) – Judul Surat: Surat untuk Sahabat
12.  Bagja Putra (Bogor) – Judul Surat: Untuk Keluarga Besarku
13.  Desi  Indriyani (Purworejo) – Judul Surat: Untuk Wanita Hebat Setelah Bunda

14.  Dewi Rizky Itsnaini (?) – Judul Surat: Assalamualaikum Ramadhan

15.  Dwi S.Yuliana (?) – Judul Surat: Aroma Desa Yang Selalu Kurindukan

16.  Elma Sheilia Ayustina (Kediri) – Judul Surat: Untuk mu Suami,
17.  Erina Budi Purwantiningsih (Kediri) – Judul Surat: Dari sudut paling timur Kediri Raya,
18.  Ety Sri Wulandari (Jember) – Judul Surat: Mudikku tanpa Si Mbok
19.  Feby Syafitri (Medan) – Judul Surat: Merindukan Desa Bernyawa Cinta,
20.  Fina Yulistiyani (Kebumen) – Judul Surat: Menunggumu dalam Bayangan Takbir
21.  Honorius Arpin (Sekadau) – Judul Surat: Kepada Pembuat Rindu
22.  Husna Yahdiani (Sumatera Barat) – Judul Surat: Kepada : Calon Imam Ku

23.  Indah Yuliati (Madura) – Judul Surat: Emak, Aku Akan Pulang

24.  Josua Nababan (Medan) – Judul Surat: Untuk Pemilik Titipan Kisahku

25.  Khen Ayu Febreani (Balikpapan) – Judul Surat: Teruntuk Ayahku dan Ibuku, dua orang penuh kasih sepanjang masa

26.  Lailatul Farihah (Lampung) – Judul Surat: Untuk Emak

27.  Lavenia Suci (Kudus) – Judul Surat: Tunggu Saya Mudik, Mak

28.  Lisa Anggraeni (Mojokerto) – Judul Surat: Tanpa Judul

29.  Lutfi Setya Asih (?) – Judul Surat: Surat Mudik

30.  Lydia Nahkluz Petrovaskaya (Bengkalis) – Judul Surat: Lullaby
31.  Mai Parni (Padang) – Judul Surat: Surat untuk kakak

32.  Maina Gurinci (Aceh Singkil) – Judul Surat: Aku Pulang

33.  Mokh. Yahya (Batang) – Judul Surat: Rintihan Rasa untuk Ananda

34.  Muhammad Iqbal (Malang) – Judul Surat: Surat Untuk Putra Daerah

35.  Mulfiya (?) – Judul Surat: Sahabatku Safinatunnajah

36.  Munandar Priyo Sudarmo (Gresik) – Judul Surat: Nyanyian Ombak Malam

37.  Nasra Rasyid (Makassar) – Judul Surat: Penghujung Rindu

38.  Nurul Hanivah (Kebumen) – Judul Surat: Teruntuk Ibuku

39.  P.N.Z (?) – Judul Surat: Untuk : Raja Lautan

40.  Qiey Romdani (Sumenep) – Judul Surat: Nak, Ibu Rindu Pulang

41.  Risvanda Audria Pramana Putri (?) – Judul Surat: Teruntuk Ibunda tercinta dan Aisyah kecil ku

42.  Shovy Ramadhanti (Jember) – Judul Surat: Untuk Ibunda Tercinta Di Desa
43.  Sulisman (Kulon Progo) – Judul Surat: Teruntuk Abangku Suramin

44.  Syafaria Esa Antika (Bogor) – Judul Surat: Kepada Malaikat tak bersayap

45.  Taufik Alfarizi (Lampung) – Judul Surat: Tunggu Saya dari Benua Biru

46.  Ukasno (Kolaka) – Judul Surat: Nenek Sari

47.  Wirdanengsih (Bandung) – Judul Surat: Surat Tidak Mudik  Lebaran

48.  Wita Meydiana Iskandar (Cianjur) – Judul Surat: Kampung Tercinta, Cianjur



Seluruh naskah nominator akan dibukukan oleh FAM Publishing, namun penulis tidak mendapatkan bukti  terbit. Bagi yang ingin memesan bukunya bisa konfirmasi via email FAM: aishiterumenulis@gmail.com.

Nantikan pengumuman 7 naskah pilihan, 30 Juni 2018. Pengumuman pemenang, 1 Juli 2018.  

Terima kasih atas partisipasi dan antusias Anda semua mengikuti event-event FAM Indonesia. Bagi yang belum beruntung, jangan berkecil hati. Tetap semangat menulis dan ikuti event-event FAM Indonesia lainnya.

*Seluruh pemenang dan peserta akan mendapatkan piagam penghargaan. Piagam akan dikirim secara bertahap melalui email setelah tanggal 5 Juli 2018. Batas pengiriman piagam 15 Juli 2018.


Salam aktif, salam literasi!
FAM INDONESIA

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…