Skip to main content

Piagam Kontributor Buku Antologi Cerpen “Ganjaran Bagi Si Pemilik Nama yang Membusuk”


Terima kasih kepada seluruh penulis buku antologi Cerpen “Ganjaran Bagi Si Pemilik Nama yang Membusuk” yang telah berkarya bersama FAM Indonesia.

Sebagai bentuk apresiasi, seluruh penulis yang tergabung dalam buku ini mendapatkan piagam penghargaan seperti contoh. Piagam dikirim ke email masing-masing penulis.

Adapun nama-nama penulis di buku ini, sbb:
1.        Devi Tasyaroh (Serang)
2.        Siti Husniyah (Karanganyar)
3.        Muhammad Da’i Kuncoro (Medan)
4.        Azizah Masdar (?)
5.        Christy Jonathan (Bandar Lampung)
6.        Daviatul Umam (Sumenep)
7.        Denik Ayuk Nuramaliya (Malang)
8.        Livia Ervita (Probolinggo)
9.        Ni Luh Mila Yunita (Kuta Selatan)
10.     Ongki Arista Ujang Arisandi (Pamekasan)
11.     Abdul Malik (Sumenep)
12.     Abdul Rahman Nasir (Bangka Belitung)
13.     Abdul Warits (Sumenep)
14.     Afifah Nur Fadlilah (Nganjuk)
15.     Alan Zakiya Permana Wati (Jember)
16.     Annisa Martin (?)
17.     Angga Eko Ardianto (Probolinggo)
18.     Asmarita (Barito Selatan)
19.     Aulia Seftiari (Parung)
20.     Ayu Mutiara (Padang)
21.     Deni Sutiawan (Cirebon)
22.     Dhea Ayunda Dwita Pangestu (Surabaya)
23.     Dian Pertiwi Subagio Putri (Malang)
24.     Doni Subrata S.Pd (Yogyakarta)
25.     Eli Wahyuni (Malang)
26.     Enggar Tiastoro Suseno (Padang)
27.     Esti Ade Saputri (Palembang)
28.     Febbi Sena Lestari (Blitar)
29.     Feryka Puri Madani (Samarinda)
30.     Firza Noviatun Nisa (Lampung Timur)
31.     Gede Agus Bramanta (Mataram)
32.     Haya Nayla Zhafirah (Probolinggo)
33.     Hilmiyati (Kediri)
34.     Leenahanwoo (Palembang)
35.     Muhammad Hafidz Agraprana (Banjarnegara)
36.     Naurah Rayyani Fakhirah (Wajo)
37.     Nur Ma’rifatul Jannah (Mojokerto)
38.     Nurfadillah Ham (Pinrang)
39.     Nurul Sakinah Fitrah (Makassar)
40.     Putra Astaman (?)
41.     Siti Khasanah (Kendal)
42.     Siti Yulianingsih (Tangerang Selatan)
43.     Suci Aulia (Padang)
44.     Suci Febria Marsya (Bogor)
45.     Sudrajad Yudo Putra (Bangkalan)
46.     Tesa Apriani Gunawan (Bekasi)
47.     Wirdanengsih (?)
48.     Yasmin Faradisi (Kuningan)
49.     Zahra Rahma Larasati (Jakarta)
50.     Zakia Fithratunnisa (Lampung)


Salam aktif!
FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…