Skip to main content

Apresiasi Karya Penulis, FAM Indonesia Gelar Temu Penulis


FAMNEWS, Kediri - Penerbit FAM Publishing bekerjasama dengan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dijadwalkan akan mengadakan Temu Penulis, Selasa, 17 Juli 2018 mendatang. Acara ini digelar dalam rangka mengapresiasi hasil karya penulis, sekaligus menjalin silaturrahmi antar penulis dan penerbit.

Disampaikan manajemen FAM Indonesia, peserta diutamakan bagi mereka yang pernah menerbitkan buku tunggal dan terbit di FAM Publishing. Meski tidak menutup kemungkinan bagi pecinta literasi lainnya atau umum, yang berminat untuk mengikuti acara tersebut, dengan syarat melakukan pendaftaran seperti peserta penulis lainnya dan membayar biaya pendaftaran Rp 100ribu.

Untuk diketahui, angkatan pertama Temu Penulis diagendakan di ruang pertemuan Rumah Makan Niki Masaki Resto, Pare, Kediri jam 15.30 sampai dengan 17.30 WIB. Setiap penulis yang hadir, akan dibekali dengan fasilitas piagam berbingkai cantik, pin FAM, dan juga makan siang bersama.

Jumlah penulis yang diundang hadir pada Temu Penulis angkatan 1, sebagai berikut:

1. Bapak Suprapno, penulis beberapa buku puisi.
2. Bapak Eko Santoso, penulis beberapa buku puisi.
3. Ibu Prina Subari, penulis beberapa buku puisi.
4. Bapak Suparlan, penulis buku Qod Aflaha Man Tazzaka.
5. Najla Al-Faiq, penulis beberapa novel.
6. Erina Budi Purwatiningsih, penulis buku puisi dan cerpen.
7. Bapak Muhammad Widodo, penulis buku Shalawat Dailul Khairat.
8. Nadhirul Wismiyati, penulis novel Bianglala Cinta Manila.
9. Bapak Bagus, penulis buku "English Shortcut".
10. Bapak Suryadi, penulis dua buku cerpen.

Temu Penulis akan diadakan secara berkala. Jumlah peserta tiap angkatan minimal berjumlah enam penulis. Acara tersebut diawali dari kota tempat FAM berpusat, yakni Kediri yang selanjutnya akan diikuti di tiap cabang FAM Indonesia. "Acara ini benar-benar dikhususkn bagi penulis atau yang mencintai dunia kepenulisan. Tidak ada pembicara atau penonton. Semua penulis yang hadir adalah peserta acaranya, sekaligus pembicara yang akan diapresiasi penerbit sebagai pemandu acara," pungkas Aliya Nurlela, Manajer FAM Publishing. [TIM Media FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…