Skip to main content

Baju Emas 24 Karat, Antarkan Aji Itasda Raih Juara Pertama Lomba Cerpen Anak Bertema Baju Baru


FAMNEWS, Kediri - Aji Itasda, pelajar SMAN 1 Ranah Batahan, Sumatera Utara ini lahir di Kampung Kapas, kecamatan Sinunukan, Mandailing Natal. Beberapa saat lalu, pemilik nama pena Damar Wulan Jr ini berhasil menjuarai lomba menulis bertema Baju Baru, yang digelar oleh Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.

Aji, mulai melakukan kegiatan menulis setelah bergabung dengan Komunitas Matahari Pena (KMP), ketika duduk di kelas satu menengah atas. Dikatakan Aji, sepulang sekolah ia biasa mengerjakan pekerjaan rumah untuk membantu orang tuanya. Sementara malam harinya, kerap ia habiskan untuk mengasah keterampilan menulisnya, baik dengan membaca maupun menulis kata-kata bijak, cerita pendek, dan puisi.

Untuk karya yang baru saja ia menangkan dalam lomba berjudul Baju Emas 24 Karat, menurut Aji, dirinya terinspirasi dari segelintir orang yang pernah ia temui, dengan keadaan ekonomi lemah yang tidak sanggup memenuhi kebutuhan saat lebaran. Selain itu, Aji juga ingin memotivasi para pembaca agar lebih bersyukur, sebab tidak semua orang bisa mendapatkan apa yang diinginkan dengan mudah. Di luar sana, kata Aji, banyak orang yang harus bersusah payah memenuhi kebutuhan hidup meski hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.

"Saya sangat bersyukur karena pencapaian ini bisa jadi sebuah motivasi, agar saya bisa terus menciptakan karya-karya yang bermanfaat bagi para pembaca," tutur Aji Itasda.

Uniknya, cerita yang dibuat sedemikian apik nan menarik ini merupakan lomba menulis yang pertama kali bagi Aji sendiri. Namun kesempatan ini nyatanya mampu membawa Aji pada peraihan terbaik, yakni juara pertama. "Saya sangat berterimakasih kepada FAM Indonesia, yang telah mengapresiasi karya-karya saya, sehingga saya bisa meraih pencapaian seperti sekarang ini," ungkapnya.

Lebih lanjut, Aji terus berusaha untuk mengajak sahabat-sahabatnya baik di dunia maya maupun di dunia nyata, agar bergabung dengan dirinya dalam komunitas kepenulisan dan mengembangkan kemampuan. Dirinya juga berharap agar FAM Indonesia bisa terus menyelengarakan dan mengapresiasi karya-karya para penulis, baik pemula maupun profesional agar dunia literasi bisa terus mengalami peningkatan.

[TIM Media FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…