Skip to main content

Ganjaran Bagi Si Pemilik Nama Yang Membusuk


Judul: Ganjaran Bagi Si Pemilik Nama Yang Membusuk
Penulis: 50 Penulis
Kategori: Kumpulan Cerpen
ISBN: 978-602-335-374-1
Terbit:  Juli 2018
Tebal: x + 378 hal; 14 x 21 cm
Harga: Rp70.000,-
(Harga belum termasuk Ongkir)


10 Cerpen Terbaik

Devi Tasyaroh, Siti Husniyah, Muhammad Da’i Kuncoro, Azizah Masdar,
Christy Jonathan, Daviatul Umam, Denik Ayuk Nuramaliya, Livia Ervita,
Ni Luh Mila Yunita, Ongki Arista Ujang Arisandi

     

50 Nominator
Abdul Malik, Abdul Rahman Nasir, Abdul Warits, Afifah Nur Fadlilah, Alan Zakiya Permana Wati, Annisa Martin, Angga Eko Ardianto, Asmarita, Aulia Seftiari, Ayu Mutiara, Deni Sutiawan, Dhea Ayunda Dwita Pangestu, Dian Pertiwi Subagio Putri, Doni Subrata S.Pd, Eli Wahyuni, Enggar Tiastoro Suseno, Esti Ade Saputri, Febbi Sena Lestari, Feryka Puri Madani, Firza Noviatun Nisa, Gede Agus Bramanta, Haya Nayla Zhafirah, Hilmiyati, Leenahanwoo, Muhammad Hafidz Agraprana, Naurah Rayyani Fakhirah, Nur Ma’rifatul Jannah, Nurfadillah Ham, Nurul Sakinah Fitrah, Putra Astaman, Siti Khasanah, Siti Yulianingsih, Suci Aulia, Suci Febria Marsya, Sudrajad Yudo Putra, Tesa Apriani Gunawan, Wirdanengsih, Yasmin Faradisi, Zahra Rahma Larasati, Zakia Fithratunnisa



Cerpen alias cerita pendek sudah bukan hal yang aneh lagi di dunia kepenulisan. Tidak sedikit penggemar jenis karya ini. Dari muda sampai tua, pelajar maupun pekerja, banyak yang menggemari cerpen bahkan menciptakannya. 

Berawal dari pemikiran itulah FAM Indonesia mengadakan Lomba Cipta Cerpen Remaja Bertema "Bebas" yang kemudian terpilih 50 penulis yang karya-karyanya berkesempatan untuk dibukukan dalam buku bersama. Penulis-penulis kreatif Indonesia diberi kebebasan untuk menyalurkan ide mereka dalam bentuk karya cerita pendek. Dengan adanya lomba ini diharapkan akan semakin banyak generasi muda kreatif Indonesia yang mencintai dunia tulis menulis, khususnya cerpen.

*Stok tidak tersedia. Buku dicetak sesuai pesanan.

[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 0812 5982 1511/081350051745, atau via email: aishiterumenulis@gmail.com, dan kunjungi web kami di: www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…