Skip to main content

Nulis Bareng Antologi Puisi Bersama 50 Penulis FAM!


[Puisi Bertema “Waktu”]

Dibuka: 12 Juli 2018
Deadline: 20 Agustus 2018
Perpanjangan Deadline: 15 September 2018

BACA DULU YA!

Pembukuan antologi ini dikhususkan bagi penulis yang sudah sering mengikuti event antologi maupun lomba di FAM Indonesia. Minimal pernah mengikuti dua event_dengan menunjukan bukti piagam yang didapat dari FAM atau menyebutkan judul buku yang diterbitkan di FAM Publishing.

FAM Indonesia mengajak 50 penulis yang aktif mengikuti event-event FAM untuk bergabung di dalam pembukuan antologi khusus bersama penulis FAM. Hal ini dalam rangka mengapresiasi karya para penulis dalam bentuk terbit buku bersama. Adapun bentuk apresiasi FAM Indonesia terhadap penulis-penulis yang tergabung dalam buku ini, sbb:

1.      Naskah diterbitkan bersama 50 penulis lainnya.

2.      Mendapatkan piagam penghargaan khusus.

3.      Jika penulis yang ikut serta, belum tergabung menjadi anggota resmi FAM Indonesia, maka penulis tersebut diberi keringanan membayar biaya registrasi keanggotaan. Cukup membayar 25% saja. Penulis yang bersangkutan akan mendapatkan piagam resmi keanggotaan (bukan ID Card/sudah tidak berlaku).

4.      Setiap penulis akan mendapatkan satu buku GRATIS, namun setiap penulis wajib membeli dua buku sebagai syarat keikutsertaan. Dengan demikian, buku yang akan diterima penulis, masing-masing 3 buku. 

Bagaimana cara mengirim puisi dan diterbitkan di buku ini?

Pertama, penulis umum (baik anggota FAM Indonesia maupun nonanggota), baik berdomisili di Tanah Air maupun di Mancanegara.

Kedua, naskah puisi ditulis di microsof word 2003 atau 2007, ukuran kertas kuarto A4, jenis huruf Time New Roman, ukuran huruf 12.

Ketiga, panjang naskah satu puisi maksimal 1 (satu) halaman, cukup 1 (satu) spasi.

Keempat, masing-masing peserta mengirimkan satu judul puisi saja.

Kelima, di bawah naskah mencantumkan profil penulis dalam bentuk narasi (maksimal 10 baris) serta foto diri. Di badan email harap mencantumkan, nama lengkap, alamat domisili, email dan nomor telepon yang dapat dihubungi.

Keenam, naskah dikirim ke email: aishiterumenulis@gmail.com. Subjek email: Nulis puisi bareng tema Waktu_nama penulis.

Ketujuh, Nama-nama penulis yang naskahnya lolos akan diumumkan di grup dan fanspage FAM Indonesia.



Kedelapan, setiap penulis yang naskahnya dinyatakan lolos seleksi, wajib membeli dua buku dengan harga Rp90.000,- saja (baik anggota FAM maupun non anggota). Ongkir dihitung berdasarkan jauh-dekat tempat tinggal penulis. Penulis akan mendapatkan 3 buku (2 buku membeli + 1 buku gratis)

*Bagi Anda yang setuju dengan ketentuan di atas, silakan diikuti program ini (tidak ada paksaan untuk ikut). Sekali lagi, pembukuan ini bukan lomba (tidak ada juara).



Salam literasi!

FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…