Skip to main content

Nyanyian Gerimis


Judul: Nyanyian Gerimis
Penulis: 55 Penulis
Kategori: Kumpulan Puisi
ISBN: 978-602-335-355-2
Terbit:  Juli 2018
Tebal: x + 162 hal; 14 x 21 cm
Harga: Rp55.000,-
(Harga belum termasuk Ongkir)
  
A.Sella Nur Afifah, Ahmad Fauzan Khabir, Ahmad Ulil Kirom, Aluna Syagus, Aprilia Ayu P, Artika Vicentia Manik, Azwar Anas, Cindy Rafina, Dikky Agung Supriadi Hariri, Ely Widayati, Fatih Irhamni Tyas Nurbudi, Fatya Maulidina, Ferril Irham Muzaki, Fitria Kamta, GebyY. Aditya, Hannita Nur Rahmawati, Harsandi Pratama Putra, Helga Maryam, I Wayan Budiartawan, Ista’inuu Latifah, Indriyanto, Jodi Febrian, Khadijatul Umami Arha, Khoirul Umam, Linda Lubi, Lu’lu’ Olivia Ningrum Kusuma Dewi, Mara Tengku Arlan Mansyah S, S.Hum, Mutiara Bunda, Nabilah Putri Rulia Salma, Ning Izmi Nugraheni, Nur Qalbi N, Nurkholipah, Nurul Nazmi Annisa, Rahmadhani Triastomo, Raidhatun Ni’mah, Rina Andriani Hasibuan, Ruhaini, Rummah Yulisyah, Saiful, Salwa Khairani Mayra, Shelyna Fauziah S,  Siti Mey Munah, Sri Budi Handayani, Sri Milawati Asshagab, Suci Larassaty, Tiara Syifadia Azhar, Tika Coelogyne, Titus Adhi Sukmana, Ulis Fajar Istyaningsih, Vania Nariswari Wahyu Araminta, Vanya Salsabila Rofinanda, Waly Lauh Ahfuzh, Widiani, Yulianawati, Yusrina Ana Kholishoh


Hujan? Banyak sekali tulisan bertema hujan. Mungkin kamu bosan dengan tema tersebut, tapi tahukah? Hujan selalu menjadi inspirasi. Tidak habis untuk dikupas; dari hujan rintik-rintik, hujan lebat, hujan yang disertai halilintar dan lainnya. Semua tentang hujan, sangat menarik untuk dituliskan jadi puisi yang inspiratif. 

Dari sinilah, FAM Indonesia melalui divisi penerbitan FAM Publishing, mengajak Anda untuk berbagi perasaan Anda melalui pembukuan antologi puisi bertema "Hujan".  penulis yang menuangkan idenya dalam buku berjudul "Nyanyian Gerimis" ini, berbagi mengenai isi hati mereka tentang hujan. Tentu saja dirangkai dengan bahasa yang apik dan inspiratif. 

Diharapkan dengan adanya buku ini dapat memberikan inspirasi dan motivasi menulis bagi pembaca. 


*Stok tidak tersedia. Buku dicetak sesuai pesanan.

[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau via email: aishiterumenulis@gmail.com, dan kunjungi web kami di: www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…