Skip to main content

Pengumuman 20 Nominator Lomba Menulis Cerpen Anak Bertema “Baju Baru”


Selamat Naskah Anda Terpilih!

Salam literasi FAMili, hari ini Kamis, 5 Juli 2018 FAM Indonesia mengumumkan 20 Nominator Lomba Menulis Cerpen Anak Bertema “Baju Baru”. Setelah tim juri menyeleksi 50-an naskah, maka terpilihlah 20 naskah nominator yang berkesempatan menjadi juara dan akan dibukukan. Naskah-naskah ini akan diterbitkan dalam satu judul buku. Judul utama buku yang akan dipilih adalah judul cerpen juara 1 (satu). Ke-20 naskah tersebut adalah:

Update berdasarkan abjad (A sampai Z)

1.             Afra UNE, ? (Lilo dan Baju Barunya)
2.             Agus Nurjaman, S,Pd, Bandung (Seindah Gema Takbir)
3.             Aida Fitriyati, Malang (Baju Pengganti)
4.             Ais Aisih, ? (Baju Baru Buat Emak)
5.             Aji Itasda, Pasaman (Baju Emas 24 Karat)
6.             Ana Saleh, Palopo (Baju Baru Berwarna Biru)
7.             Analysa br surbakti, S. Pd, Deli Serdang (Ester dan Doa Baju Baru)
8.             Badik Sri Lestari, Kediri (Baju Rajut Ramadhani Fitri)
9.             D Laraswati H, Jakarta (Baju Baru Dari Kain Lawas Ibu)
10.         Desma Hariyanti, Bandarlampung (Hadiah untuk Sahabat)
11.         Dian Pertiwi Subagio Putri, Malang (Aku Malu Karena Berbohong)
12.         Erning Astuti, Tanjungpinang (Hadiah Terakhir)
13.         Lailatul Farihah, Jakarta (Kotak Ajaib dari Allah)
14.         Melly Andriani Br ginting, Medan (Senyum Semangat Nindy)
15.         Nadia Dwi Ramadhani, Pacitan (Untuk Ibu dari Tante Cantik)
16.         Nia Ermawati, Pasuruan (Man Purpose, God Disposes)
17.         Rina Pujiarsih, SE, S.Pd, ? (Seragam  Batik Merah dan Biru)
18.         Shafa Aulia Rahmadillah, Malang (Karena Janji Allah itu Benar)
19.         Ukasno, S.Pd, Kolaka (Kedermawanan Ayu)
20.         Widut Widwi Astuti, Blitar (Baju Koko Kebesaran)


Seluruh naskah nominator akan dibukukan oleh FAM Publishing, namun penulis tidak mendapatkan bukti  terbit. Bagi yang ingin memesan bukunya bisa konfirmasi via email FAM: aishiterumenulis@gmail.com.

Nantikan pengumuman Pemenang, 6 Juli 2018.

Terima kasih atas partisipasi dan antusias Anda semua mengikuti event-event FAM Indonesia. Bagi yang belum beruntung, jangan berkecil hati. Tetap semangat menulis dan ikuti event-event FAM Indonesia lainnya.

*Seluruh pemenang dan peserta akan mendapatkan piagam penghargaan. Piagam akan dikirim secara bertahap melalui email setelah tanggal 10 Juli 2018. Batas pengiriman piagam 25 Juli 2018.

Salam aktif, salam literasi!
FAM INDONESIA

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…