Skip to main content

Pengumuman Nominator Lomba Cipta Puisi Bertema "Hari Raya"


Selamat Naskah Anda Terpilih!

Salam literasi FAMili, hari ini Selasa, 3 Juli 2018 FAM Indonesia mengumumkan  84 Nominator Lomba Cipta Puisi Bertema “Hari Raya”. Setelah tim juri menyeleksi 294  naskah, maka terpilihlah   84 naskah nominator yang berkesempatan menjadi juara dan akan dibukukan. Meskipun tim juri menemukan banyak naskah yang bagus dan layak dibukukan, namun juri harus membatasi 84 naskah terbaik yang dibukukan. Naskah-naskah ini akan diterbitkan dalam satu judul buku. Judul utama buku yang akan dipilih adalah judul puisi juara 1 (satu). Ke- naskah tersebut adalah: 

Update berdasarkan abjad (A sampai Z)
1. A. Irwan Munandar, Bulukumba (Kembali Fitrah)
2. A. Warits Rovi, Sumenep (Kidung 1 Syawal)
3. Abdul Ghoffar, Surabaya (Hari Raya)
4. Abdul Warits, Sumenep (Kepada Idul-Fitri)
5. Abu Bakar Al Lailul Qodry, Bangkalan (Sajak Lentera Hati)
6. Achmad Dandy, Surabaya (Belum Berlalu)
7. Afifah Meliana Wati, Bantul (Sapalam)
8. Agus Nurjaman, S.Pd, Bandung (Rindu Bau Kasturi)
9. Aida Fitriyati, Malang (Polisi Cepek)
10. Akash Nur Hidayatulloh, Banjarnegara (Selendang Nirmala)
11. Akhmad Asy'ari, Sumenep (Lahir Kembali)
12. Alir Tirta Galih Setia Andika, Surabaya (Senja Terakhir)
13. Alvin Nuha, Lamongan (Semarak Kemenangan)
14. Analysa br Surbakti, S.Pd, Deli Serdang (Diamku)
15. Anton Bahrul Alam, Sukabumi (Raya dan Tangis)
16. Atih Fitria, Jambi (Hari Kemenangan Membersamai)
17. Baharudin, Bangka (Saatnya Meraih Kemenangan)
18. Cerrypineapple, Jember (Senja)
19. D.A. Akhyar, Palembang (Kujumpai  `Idul Fitri pada Kepasrahan dan Tangis)
20. Dani Fitrah Hayati, ? (Tanpa Keluarga, Raya-ku Hampa)
21. Dedi Saeful Anwar, Cianjur (Denyar Cahaya di Hari Raya)
22. Defara Amelia C P, Magetan (Curahan Bulan Fitri)
23. Desi Indriyani, Purworejo (Atmosfer Hari Nan Fitri)
24. Desma Hariyanti, Bandarlampung (Kabar Kemenangan)
25. Diah Arum Sasi, Yogyakarta (Aku Bernapas Ketika Takbir Berkumandang)
26. Elma Sheilia Ayustina, Kediri (Bapak Tak Pulang)
27. Erfan Ra'as, Madura (Tiada Hamba Menjadi Malaikat)
28. Ety Sri Wulandari, Jember (Undangan Panen Raya)
29. Eva Juliani, Sumbawa (Pada Takbir yang Mengumandangkan Rindu)
30. Faisal Misbakhul Munir, Kediri (Lebaran untuk Ibu)
31. Fatika Youlisa Putri, Palembang (Hari Raya)
32. Febbi Sena Lestari, Blitar (Senyum dalam Bingkai)
33. Femi Lidia Lestari, Garut (Sendu di Ujung Rindu)
34. Ferry Dermawan, Surabaya (Penantian Hari Nan Fitri)
35. Firdausi Nuzula, Pasuruan (Rindu)
36. Fitri Marsela, Wonogiri (Hari Maaf)
37. Hendri Efendi, Pekanbaru (Kado Terindah dari Tuhan)
38. Honorius Arpin, Sekadau (Kembali Fitri)
39. Hudaya Hasanah Rahmah, ? (Segenggam Harapan)
40. Irmawati, ? (Sepotong Sajak Bunda)
41. Jajang Ramdani, Tasikmalaya (Idul Fitri Ibu Minah)
42. Jihan Apriani, Pekanbaru (Sambutan Hari Raya)
43. Khen Ayu Febreani, Balikpapan (Senandung Pesta)
44. Kismunthofiah, Grobogan (Dosa pada FitrahNya)
45. Kumil Laila, Lampung (Bingkisan Rindu di Hari Fitri)
46. Lilis Nur Farida, Banyumas (Aku Pulang)
47. Lisa Anggraeni, Mojokerto (Romansa Hari Raya)
48. Lydia Nahkluz Petrovaskaya, Bengkalis (The Great Avontur)
49. Maulia Isna Choirunnisa, ? (Idul Fitri)
50. Mela Listi Rohmawati, Langkat (Fitri dan Si Dul)
51. Melly Andriani Br Ginting, Medan (Dalam Hati)
52. Meri Indrasari, Lombok Timur (Mukenah Cinta)
53. Moh. Romli, Sumenep (Elegi Perantau di Hari Raya Idul Fitri)
54. Muhlis Hatba, Bone (Soneta Lebaran)
55. Munandar Priyo Sudarmo, Gresik (Sabda Sang Pendosa)
56. Nasra Rasyid, Makassar (Saat Kau Lihat Hilal)
57. Nurul Aqsha, ? (Sketsa Kehidupan di Hari Kemenangan)
58. P.N.Z, ? (Gerutu Takbir)
59. Puan Rinai, Mojokerto (Ejaan yang Berulang)
60. Putri Ramadhani, Grobogan (Rindu)
61. Qiey Romdani, Gresik (Hari Raya)
62. R. Dedy Kartawan, Bulukumba (Di Sini Tak Ada Takbir)
63. Rahmat Firdaus Rolobessy, Tangerang (Kata di Hari Raya)
64. Rahmi Mardatillah, Janeponto (Memaafi Luka)
65. Rauzannah, Cirebon (Kemenangan Hari Raya)
66. Ria Juliantika, Madiun (Seputih Susu, Semurni Maaf di Kemenangan Raya)
67. Rifaldi, Sampit (Pemulung Sehabis Sembahyang Ied)
68. Rika Arlianti, Bulukumba (Senandung Kisah di Hari Kemenangan)
69. Rosdiana Iskandar, Sinjai (Baju Baru)
70. Rusdi El Umar, Sumenep (Gema Takbir Menembus Langit)
71. S. Muchlisin A, Palembang (Idul Fitri di Rantauan Wajah Ibu)
72. Saiful Bahri, Sumenep (Senandung Gita Lebaran)
73. Sekar Fazhari, Purbalingga (Merindu)
74. Setiani Ika Nurkholisah, Ciamis (Menyambut Hari Kemenangan)
75. Siti Halwah, Madura (Harmoni Hari Raya)
76. Suci Aulia, Padang (Lebaran yang Terindukan)
77. Sulaiman, ? (Air Mata di Hari Raya)
78. Taufik Noor, Samarinda (Kembali Bersua)
79. Tima Fatimah, Purwakarta (Batu Berkisah)
80. Toni Indra Prasetio, Purwokerto (Idulfitri)
81. Ulfatul Maya Sofa, Parepare (Suka Duka Raya)
82. Upia Nuraeni, Purwakarta (Untuk Senja Terakhirku)
83. Vina Aizana, Lamongan (Gema)
84. Wahidah, Klaten (Hari Raya Madona)


Seluruh naskah nominator akan dibukukan oleh FAM Publishing, namun penulis tidak mendapatkan bukti  terbit. Bagi yang ingin memesan bukunya bisa konfirmasi via email FAM: aishiterumenulis@gmail.com. 

Nantikan pengumuman 20 Naskah Terpilih, 4 Juli 2018 . Pengumuman Pemenang, 5 Juli 2018. 

Terima kasih atas partisipasi dan antusias Anda semua mengikuti event-event FAM Indonesia. Bagi yang belum beruntung, jangan berkecil hati. Tetap semangat menulis dan ikuti event-event FAM Indonesia lainnya. 

*Seluruh pemenang dan peserta akan mendapatkan piagam penghargaan. Piagam akan dikirim secara bertahap melalui email setelah tanggal 8 Juli 2018. Batas pengiriman piagam 20 Juli 2018. 


Salam aktif, salam literasi!
FAM INDONESIA

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…