Skip to main content

Saiful Bahri, Juara Lomba Menulis Puisi "Hari Raya: Menulis Mendamaikan Hati dan Perasaan"


FAMNEWS, Kediri - Sempat tidak percaya naskah puisinya dipilih sebagai pemenang juara lomba menulis bertema Hari Raya, Saiful Bahri mengaku bangga atas peraihannya tersebut. Pasalnya, Saiful yang kelahiran Sumenep, Madura, 05 Februari 1995  ini telah menggemari dunia literasi sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Tetapi tulisan-tulisannya saat itu hanya disimpan untuk pribadi.

Mulai kelas IV Madrasah Ibtidaiyah pun, dirinya sedikit lebih giat belajar menulis, hanya saja memang dikatakannya, tidak segiat saat duduk di bangku se-tingkat SMP. Namun saat Guru bahasa Indonesianya menuntut Saiful dan teman-teman satu kelasnya untuk menulis, ia dengan senang hati menerima tantangan tersebut dengan menulis pantun, cerita pendek dan beberapa manuskrip puisi sebanyak tujuh lembar dalam seminggu. "Anggap saja menulis merupakan suatu kewajiban yang harus dipatuhi," kata Saiful.

Tak salah bila kegigihannya melatih kemampuan menulis tersebut, kini membuahkan hasil. Untuk karya yang diikutsertakannya dalam lomba menulis puisi bertema Hari Raya, yang diselenggarakan oleh Forum Aktif Menulis dan FAM Publishing kemarin, menurut Saiful, hanya berawal dari iseng. "Boleh dikatakan selingan saja, demi mengisi waktu luang. Hitung-hitung mengasah kemampuan,"  tutur penulis buku puisi Senandung Asmara dalam Jiwa (2018) itu.

Bagi aktivis di kajian sastra dan Teater Kosong Bungduwak ini, hanya menulislah yang bisa mendamaikan hati dan perasaan. Pasalnya, pasca menuliskan ide dan apa yang dirasakannya lewat tulisan, Saiful merasa lebih baik. "Kalau ibarat kesehatan darah dan jantung, menulis adalah urat nadi yang mengalirkan ketenangan di setiap kehidupan," ujarnya berpuitis.

Lebih lanjut Saiful menuturkan untuk jangan merasa takut mencoba. Pandai-pandailah menanam kembang tujuh warna. Karena setelah kita menanam, besok atau lusa kita tinggal memetiknya. Tak ketinggalan, Saiful juga berbagi tips bagi penulis pemula lainnya, "Tulislah yang ingin ditulis, jangan biarkan imaji ini beku-sayu menjadi sunyi," katanya.

Dirinya juga berharap agar FAM lebih kreatif, sukses, dan tersebar luas di seantero jagad raya, sehingga bermanfaat bagi banyak orang. Selain merupakan penulis antologi puisi yang diterbitkan FAM Publishing, berikut tulisan Saiful yang dimuat di koran lokal maupun nasional, seperti Jawa Pos (pro-kontra), Republika (Puisi 2018). Riau Pos (2017), Bangka Pos (2017), Palembang Ekspres (2017), Radar Madura (2017), Radar Surabaya (2017), Radar Jember (2017), Radar Banyuwangi (2017), Radar Bojonegoro (2017), Kedaulatan Rakyat (2017), Solo Pos (2017 dan 2018), Malang Voice (2017). Majalah Simalaba (2017), Analisa Medan (2018), Radar Cirebon (2018), Kabar Madura (2018) dan Jurnal Asia-Medan. Puisinya juga masuk dalam antologi puisi CTA Creation (2017). Antologi Senyuman Lembah Ijen-Banyuwangi (2018), dan Antologi kumpulan karya anak bangsa: Sepasang Camar-Majalah Simalaba (2018).

[TIM Media FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…