Skip to main content

TEMU PENULIS Menggaungkan Semangat Berliterasi


FAMNEWS, Kediri—TEMU PENULIS yang diselenggarakan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dan FAM Publishing, Selasa (17/7) lalu turut menampilkan sosok-sosok penulis hebat. Mereka adalah penulis yang karyanya telah diterbitkan oleh FAM Publishing.

Adalah Suprapno, penulis beberapa buku puisi. Dalam Temu Penulis tersebut, pegawai kantor Bea dan Cukai Kediri itu, menceritakan perjalanannya memulai berkarya lewat menulis puisi. Lalu mengenal FAM Indonesia dan rutin mengikuti event-event yang diselenggarakan FAM. Akhirnya Suprapno, berhasil menerbitkan tiga buku tunggal di FAM Publishing.


Ada pula Eko Santoso yang telah menulis dan menerbitkan beberapa buku puisi. Beliau juga tak ketinggalan menceritakan perjalanannya berkarya, yang diawali dengan terbitnya naskah puisi di sebuah koran, sewaktu duduk di bangku SLTP. Sejak saat itu, semangat menulisnya terus terasah.

Sempat mencari-cari penerbit, hingga setelah berselancar di dunia maya, penulis yang sekaligus guru SMP ini menemukan FAM Publishing. Setelah itu, terbitlah buku antologi di FAM publishing yang disusul karya tunggalnya.


Prina Soebari, seperti halnya dua penulis di atas, Pegawai Tata Usaha di SMPN 1 Pagu ini telah menulis beberapa buku puisi. Perjalanan menulisnya hampir sama dengan suaminya, Eko Santoso. Ia dan sang suami, berhasil menerbitkan buku tunggal di FAM Publishing dan beberapa buku antologi. Sebagian buku-buku antologinya, terbit di penerbit lain.


Penulis keempat yang mendapat undangan khusus FAM, Suparlan ialah penulis buku nonfiksi. Sarjana hukum yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang sekaligus mubaligh ini, awal mula terbetik untuk menerbitkan buku, karena merasa perlu karya-karya mendapatkan hak cipta dan dikenal masyarakat secara luas.

"Selama ini, naskah tersebut saya bagikan cuma-cuma pada jamaah pengajian. Sudah hampir 300-an copy saya bagikan," akunya.


Selain itu, Muhammad Widodo yang merupakan penulis buku nonfiksi sekaligus pegawai Kantor Konsultan Manajement dan Tekhnik di Surabaya, hari itu sengaja datang langsung dari Surabaya untuk menghadiri acara TEMU PENULIS FAM Indonesia. Beliau menceritakan aktivitasnya sehari-hari, jenjang pendidikan yang pernah ditempuh dan perjalanan menulisnya.

Ia menuturkan perkenalannya dengan FAM Publishing. Menurutnya, berawal saran dari keluarga untuk membukukan tulisan-tulisannya. Di samping itu, Muhammad Widodo merasa perlu membukukan karya-karyanya dengan ber-ISBN agar karyanya diakui dan dikenal luas. Setelah melakukan pertemuan dengan pihak penerbit, ia mantap menerbitkan bukunya melalui FAM Publishing. Buku tersebut juga telah dilaunching di kediamannya, dengan mengundang pihak penerbit dan dihadiri sekitar 70-an peserta.


Selanjutnya, sosok Nadhirul Wismiyati, penulis novel "Bianglala Cinta Manila" juga hadir dalam kegiatan unggulan FAM Indonesia itu. Novel perdana yang ditulisnya sekarang sedang dalam proses terbit di FAM Publishing. Penulis yang bekerja di MAN 8 Jombang ini, menceritakan awal mengenal FAM. "Saya diberitahu pihak pegawai perpusda Mastrip, Pare. Kemudian saya mendatangi kantor penerbit dan melakukan diskusi literasi. Akhirnya mantap menerbitkan buku tunggal di FAM Publishing," ujarnya.


Penulis Sepasang Mata Biru Jihyun dan buku novel Single Parent, Najla Al-Faiq turut meramaikan acara. Najla yang seorang mahasiswi sekaligus putri dari seorang penulis, mengaku suka menulis sejak kecil. Saat kelas dua SD, dirinya pernah memenangkan lomba menulis artikel di majalah anak. Kemudian sewaktu MTs, ia pernah mendapat penghargaan sebagai penulis terbaik tingkat SLTP/SLTA se-Kabupaten Kediri. 

Najla juga bekerja sebagai penulis lepas. Karya-karyanya yang diposting di blog-nya, banyak mendapat apresiasi pembaca. Dari sanalah kemudian ia berinisiatif untuk menerbitkan buku.


Ihsanudin, penulis puisi dan cerpen yang berprofesi sebagai karyawan toko ini, semakin melengkapi kebahagiaan dalam acara, 17 Juli kemarin. Datang jauh-jauh dari Blitar, Ihsanudin mengaku sangat bersyukur bisa mengenal para penulis dan mendapat tambahan ilmu.

Untuk diketahui, FAM Indonesia bersama FAM Publishing sendiri akan terus menggiatkan acara seperti ini. Selain sebagai salah satu bentuk menjalin silaturahmi dengan para penulis, hal ini juga menjadi terobosan baru FAM Indonesia untuk meningkatkan minat literasi tanah air.

Sebab, bukan hanya antar penulis di satu kota saja yakni Kediri sebagai kantor pusat FAM Indonesia. Acara TEMU PENULIS ke depan, akan lebih melibatkan banyak cabang-cabang di kota-kota lain seperti, Depok, Ciamis, Palu, Sorong, Palembang, dan kota-kota lainnya.

Bahkan, bila memungkinkan akan dilakukan juga TEMU PENULIS dari beberapa kota yang digabungkan dan dilaksanakan di satu kota, pusat misalnya. Sebagai salah satu upaya pendidikan literasi sehat bagi penulis. [TIM FAM Indonesia]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…