Skip to main content

Update Final Peserta Lomba Cipta Cerpen Bertema “KARNAVAL"


Selasa, 21 Agustus 2018
Update berdasarkan urutan huruf Abjad A-Z
[Penerimaan Naskah Sudah Ditutup]

1. Analysa br Surbakti, S.Pd, Deli Serdang (Celana Robek)
2. Analysa br Surbakti, S.Pd, Deli Serdang (Kuindli I Love You)
3. Aubrey Naftali Sitorus, Jakarta (Midnight Carnaval)
4. Aji Itasda, Pasaman (Euforia Lara)
5. Aji Itasda, Pasaman (Ketika Kata Berkata)
6. Bagja Putra, Bogor (Sang Pelipur Rindu)
7. Chairil Anwar Batubara, ? (Teman dan Karnaval)
8. Dela Selvia, Aceh Tenggara (Karnaval 17 Agustus)
9. Dharma Sandy, Malang (Karnaval Pertamaku)
10. Dian Pertiwi Subagio Putri, Malang (Karnaval Pertama)
11. Dyah Rahmadhani Saraswati, Mojokerto (Carnival Dreams)
12. Erwin Setia, Bekasi (Karnaval Kesedihan di Kota Sendu)
13. Ferril Irham Muzaki, Malang (Karnaval Menuju Planet Mars)
14. Ferril Irham Muzaki, Malang (Karnaval di Kotaku di Planet Mars)
15. Hariani Oktavia Damayanti, Sidoarjo (Kebaya Merah Jambu)
16. Hariani Oktavia Damayanti, Sidoarjo (Kuda yang Terbakar)
17. Henny Puspitasari, Banyumas (Adi Asmara Dinda)
18. Lailatul Kusuma Jatri, Kendal (Karnaval Tikus)
19. Latifatus Sholikah, Ponorogo (Nusantara)
20. Lily Rosella, Jakarta (Scane of Carnaval)
21. Lydia Nahkluz Petrovaskaya, Bengkalis (Carnaval Canavarro)
22. Mareza Sutan Ahli Jannah, Jambi (Aku Dilarang Bermain Petasan Sejak Kecil)
23. Maria Yda, Palembang (Karnaval Dirgahayu)
24. Nadia Eva Nur Fauzy, Tulungagung (Karnaval Pertama Mela)
25. Naelufar Indy Khamroh, Cirebon (Kota Kecil Kami)
26. Ogie Munaya, Pontianak (Karnaval Mila)
27. Ones Putra Hulu, Bogor (Mangai Binu)
28. Puji Suci Susinta, Jambi (Pejuang Literasi di Jaman Merdeka)
29. Qanita Hafidha Iyasha, Madura (Gelak Tawa Kotoran Sapi)
30. Rahmi, Bantaeng (Sesuatu yang Istimewa dari Lomba Tarik Tambang)
31. Rizky Wahyu Saputra, Bogor (Menjaga Tradisi)
32. Siti Husniyah, Karanganyar (Bubur Merah Putih)
33. Siti Khoiriyah, Lamongan (Karnavalku)
34. Suci Febria Marsya, Bogor (What’s Wrong with Carnaval)
35. Titik Muliantini, Kediri (Sajak Cinta untuk Ayah dan Ibu)
36. Wahyu Purwantoro, Yogyakarta (Karnafal Menyongsong Kemerdekaan)
37. Wirdanengsih, Bandung (Karnaval Khatam Quran)


TERIMA KASIH ATAS PARTISIPASI ANDA SEMUA. SALAM LITERASI!

FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…