Skip to main content

Urgensi Menulis di Era Milenial


Oleh: Mister Hadi


Menulis di era milenial adalah tantangan. Saban tahun bahkan setiap bulan tantangan itu datang menghampiri. Entah itu dalam bentuk sayembara atau event menulis puisi, cerpen, cerbung, novel, essay, artikel, opini dengan berbagai jenis dan ragamnya. Apa yang saya maksud sebagai tantangan di sini adalah berani mengambil peluang dan kesempatan dalam tantangan tersebut. Saatnya tantangan dijadikan peluang, tidak gentar dan selalu optimis bisa menaklukkan sayembara atau event yang dikonteskan. Karena berani dan selalu optimis merupakan ciri generasi milenial. Kekurangan bukanlah sebuah alasan untuk tidak berkompetisi, justru itu adalah ajang pembuktian untuk unjuk gigi. Bukankah generasi milenial senang dengan tantangan? Tentunya tantangan menulis bukan tawuran!

Sahabat pembaca yang budiman. Kesempatan menjadi seorang penulis terkenal di era milenial ini terbuka lebar, karena didukung dengan menjamurnya penerbit-penerbit yang menjadi wadah penyaluran bakat untuk menerima naskah apa pun. Bukan hanya itu, para pencari naskah (PPN) juga akan memberi bonus kepada penulis yang naskahnya diterima. Tentunya, ini menjadi hal fantastis untuk memicu dan mencambuk semangat generasi milenial untuk berkarya dalam dunia aksara. Peluang seperti ini tidak akan ditemukan pada ‘zaman baheula’ hanya dapat dinikmati oleh generasi milenial saja. 

Kaitannya dengan ini, generasi milenial harus lebih berani dan lebih optimis untuk berkontribusi dalam dunia litarasi. Bukan tenggelam dalam arus modern yang lupa dengan kewajibannya sebagai penerus estafet kemajuan dunia aksara. Kewajiban melek dalam dunia IPTEK itu wajar, karena arus teknologi tidak dapat dihindari kemajuannya. Namun, jangan sampai terlalu jauh terbawa arus ‘kemodernan’ karena ujungnya kita akan dihempas gelombang ‘kejumudan’. Bukankah kejumudan akan mendatangkan keterkungkungan dalam narasi berpikir, berkarya dan berkreasi?.  

Arus kemajuan teknologi yang serba canggih di era modern ini, harus berbanding lurus dengan kemajuan kontribusi generasi milenial. Salah satu cara berkontribusi itu dengan memajukan dunia literasi. Tak dielakkan, kiprah para generasi milenial bisa dikatakan mulai menggeliat. Ini menjadi kabar baik dan membanggakan khususnya dalam dunia sastra nusantara. Lahirnya para genrus (generasi penerus) dalam dunia kepenulisan menandai tumbuhnya kesadaran penggeliat sastra untuk berkontribusi mencetak generasi emas Indonesia 2045. 

Kemudahan dalam mengakses berbagai informasi daring online maupun offline di mana pun dan kapan pun, tentulah hal ini sangat membantu generasi era milenial ini untuk terus berinovasi tanpa henti. Terkadang, hal ini memaksa kita berkaca pada keberhasilan Ibnu Manzhur pada abad terakhir kejayaan Islam tepatnya pada abad ke-14 yang mampu menulis kitab ‘Lisanul Arab’ kurang lebih dua puluh jilid. Itu dilakukannya sendiri, tidak ada intervensi orang lain. Tidak ada akses internet, tidak ada istilah daring online maupun offline, tidak ada kontes atau sayembara naskah seperti saat ini. Yang dimiliki oleh Ibnu Manzhur semangat menulis untuk warisan kejayaan umat Islam. 

Jika penulis sekelas Ibnu Manzhur dapat menulis berjilid-jilid buku hanya dengan menggunakan qalam (pena) klasik dan tinta tradisional. Tentulah generasi milenial dapat melebihi pencapaian tersebut. Sebab, di era milenial segala macam tinta dan pena bisa ditemukan dengan mudah dan murah. Bahkan, di zaman milenial ini tinta, pena dan buku tulis tidak lagi dibutuhkan, mengingat semua penulis sudah beralih ke keyboard  computer dan laptop sebagai ganti qalam dan tinta. Berkaitan dengan hal ini, tantangan sebenarnya bagi generasi milenial adalah menumbuhkan keberanian dan sikap optimis untuk mampu menjadi penulis handal. Bahkan dapat melampaui pencapaian para generasi emas Islam zaman dulu.

Setelah membaca berbagai pemaparan di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan sederhana, bahwa urgensi menulis khususnya bagi generasi milenial sangat penting untuk kontribusi dan bukti nyata bahwa generasi milenial mampu berkiprah dan berbuat dalam memajukan dunia litarasi. Terkahir, saya ingin mengutip perkataan Hujjatul Islam Imam al-Ghazali yang terkenal “Jika kamu bukan anak raja dan bukan anak seorang ulama, maka menulislah!”
Wallhu a’lam bisshowab  


Mister Hadi adalah nama pena dari Sofian Hadi. Asli berdarah Taliwang, Sumbawa Barat. Sekarang menempuh kuliah Pascasarjana (S2) di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor. Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam. Pengalaman menulis, cerpennya berjudul “Sebait Do’a untuk Sang Guru” masuk 10 besar cerpen terbaik Lomba Aksara 2016.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…