Skip to main content

Juara Tiga Lomba Menulis Puisi Bertema Merah-Putih


FAMNews, Kediri - Sejak duduk di kelas II MTs Al-Iftitahiyah Batuputih, Sumenep-Madura, Akhmad Asy'ari rutin mengirimkan tulisan ke berbagai majalah, yang saat itu masih menggunakan pengetikan manual. "Majalah yang pertama kali memuat sajak saya adalah Mimbar Pembangunan Agama (MPA) Kanwil Departemen Agama Jatim edisi bulan Oktober Tahun 1995," kisah sang peraih juara tiga lomba menulis puisi Merah Putih ini kepada Tim Media FAM.

Guru sertifikasi di Madrasah Ibtida'iyah Darul Ulum, Batuputih Sumenep tersebut intens meluangkan waktunya untuk menulis setelah membimbing sang anak mengaji. Tulisan yang ia lahirkan berupa puisi dan artikel. Bukan hanya menulis puisi dan artikel saja, tetapi bidang kepenulisan yang lain juga di jamaahnya, dari  cerita pendek, cerita rakyat, hingga Karya Tulis Ilmiah.

"Ada yang juara, ada juga yang tidak juara, tetapi yang penting terus harus mengasah diri. Karena kemampuan kita orang yang akan menilai, maka menulislah! Agar menjadi sejarah untuk anak cucu kita," tegas pria kelahiran Sumenep, 28 Desember 1979. Hal itu ia lakoni untuk mendukung generasi bangsa dalam mengingat jejak-jejak para pahlawannya, yang tak mudah menyerah, tak kenal lelah, selalu berusaha, dan tawakal. 

Anggota PERGUNU dan DPP PPP Sumenep ini, mengaku sangat bersyukur serta antusias menyambut apresiasi Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia terhadap puisinya. Sebelumnya, khusus untuk puisi sendiri Akhmad Asy'ari setiap minggunya selalu menggelar diskusi sastra, yang melibatkan siswa MTS Darul Ulum Batuputih, Sumenep. Tak heran, bila kemudian ia dinobatkan sebagai juara dalam sayembara yang digelar FAM.

Sedangkan dalam kepenulisan artikel, dia mengikuti komunitas yang beranggotakan alumni-alumni pesantren, dengan latar pekerjaan yang berbeda-beda se-Jawa Timur dan masih intens menulis. Kegiatan-kegiatan seperti ini, oleh Akhmad Asy'ari dimaksudkan sebagai suntikan semangat dalam berkarya. Melalui FAM Indonesia dan FAM Publishing, Akhmad Asy'ari berpesan, untuk menjayakan literasi di negeri ini. [TIM Media FAM]

Karya yang dipublikasikan:
Epitaf Kota Hujan, Padang Panjang
-Kunanti di Kampar Kiri, Riau
-Wangian Kembang, KONPEN Bachok Kelantan Malaysia
- Mutiara yang terserak (Cerita Rakyat), RULIS Sumenep

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…