Skip to main content

Segenggam Cinta di Balik Coretan Pena


Judul: Segenggam Cinta di Balik Coretan Pena
Penulis: 37 Penulis
Kategori: Puisi
ISBN: 978-602-335-378-1
Terbit: September 2018
Tebal: 120 hal;  14 x 21 cm
Harga: Rp55.000,-
(Harga belum termasuk Ongkir)

Alfina, S.Si, Bee, Chiaki Hasegawa, Demayani, Destyariani Liana Putri, Dewy Susilawati Utari, Evi Khovifah Barkah, Evi Sukaesih, Eyik Widyansyaficha Marsudi, Helen Saparingga, Hera Rahmawaty, Ina Widyaningsih, Indah Tri Wahyuningsih, Iswandayani, Jerry Ryan Pambudi, Maman Empun, Mega Hedian Nura, Meti Melianti, Mila Nurhayati, Nevia Ika Utami, Nida Ulkha Evryani, Putra Hartama Dmk, Randa Hidayat, Roni Hardiawan, Rosmiena Binti Che Mat, Rufaifa Abdullah, Singgih Husna, Tesalonika Hasugian, Upia Nuraeni, S.Pd, Widwi Astuti, Wirdatun Nafi'ah, Yolandah, Yulli Hariyani, Yusrina Ana Kholishoh

Apa yang terbetik di benak Anda saat mendengar kata 'cinta'? Tentu saja jawaban setiap orang beragam. Ada yang mengatakan cinta ialah dari Tuhan kepada makhluk ciptaannya, cinta yakni dari seorang ibu kepada anaknya, dan masih banyak lagi definisi cinta lainnya.

Dari sini FAM Indonesia melalui divisi penerbitannya FAM Publishing mengajak para penulis kreatif Indonesia untuk menuangkan ide-ide kreatifnya dengan pembukuan antologi puisi bertema 'Cinta di Ujung Pena'. Terkumpul sebanyak 37 penulis Indonesia yang karya-karyanya termuat dalam buku ini. Mengungkapkan ide dan pengalaman mereka dalam untaian bait dan diksi indah tentang cinta di ujung pena.

Semoga dengan adanya buku ini akan lebih banyak lagi generasi Indonesia yang lebih menyukai karya sastra.

*Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan.
  
[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 0812 5982  1511/081350051745, atau via email: aishiterumenulis@gmail.com, dan kunjungi web kami di: www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…